Berita
Masa Liburan, Wisatawan Buru Batik Garutan


Print


GARUT, (PRLM).- Banyaknya wisatawan dari luar daerah yang berkunjung ke Garut selama musim liburan akhir tahun ini membawa berkah bagi para perajin Batik Garutan. Selama sepekan terakhir, penjualan Batik Garutan mengalami peningkatan sebesar 30 persen dibanding hari hari biasa.

Batik Garutan sudah lama terkenal sebagai industri rumahan sehingga tidak jarang para wisatawan memilih membeli langsung di rumah rumah yang berada di sentra perajinnya alih-alih membeli di toko. Seperti yang diutarakan salah seorang penjual Batik Garutan, Ani Hendrayani.

Sejumlah sentra perajinnya tersebar di beberapa wilayah seperti di Ciledug, Suci, Paminggir, dan Karangpawitan. Sementara ruang pamer berupa toko dan galeri dapat ditemui di sejumlah titik seperti di kawasan pengkolan jalan Ahmad Yani dan jalan Otto Iskandardinata, Tarogong Kaler.

Soal harga, Batik Tulis Garutan ukuran 105 cm X 270 cm dibanderol antara Rp 1.5 juta sampai Rp 1,7 juta. Sementara untuk batik cap, harganya bisa jauh di bawahnya bergantung pada ukuran dan motifnya.

Selain melayani pembeli yang datang langsung ke sentra perajin, Ani mengatakan, sejumlah pesanan juga datang dari Jakarta, Sumedang, dan Bandung. Kebanyakan pesanan berupa batik cap yang memang hampir setiap bulan selalu mengalir. Selama liburan, ada sedikitnya pesanan 250 potong pakaian batik cap.

“Tapi sekarang banyak juga yang memesan Batik Tulis Garutan untuk seragam. Biasanya dipakai untuk keperluan anggota keluarga saat menghadiri resepsi undangan seperti pesanan 5 potong seragam dari keluarga di Jakarta yang sedang kami kerjakan,” ujar Ani di kediamannya, Kampung Sayuran, Desa Paminggir, Kecamatan Garut Kota, Selasa (30/12/2014).

Salah seorang pembeli asal Bandung, Erika Hajar (42) menyatakan sengaja menyempatkan diri datang ke sentra batik garutan di sela-sela liburan keluarganya di Cipanas, Garut hanya untuk memastikan keaslian kain yang akan dibelinya. "Hampir setiap ke Garut saya membeli batik untuk oleh oleh," tuturnya.

Garut menjadi salah satu daerah di Priangan yang menghasilkan batik berkualitas tinggi dengan sebutan Batik Garutan. Pembuatan Batik Garutan diwariskan secara turun temurun dan mengalami masa kejayaan sejak akhir 1960an hingga pertengahan 1980an.

Akan tetapi, salah satu kelemahannya adalah keterbatasan modal serta strategi pemasaran yang belum juga mapan hingga pamornya sedikit demi sedikit memudar. Di Jawa Barat, harus diakui popularitasnya saat ini masih kalah oleh batik Trusmi Cirebonan.

Motif-motif yang digunakan kebanyakan terinspirasi dari keindahan alam Garut seperti bunga, daun, burung. Di dalamnya juga terkandung cerminan kehidupan sosial budaya, falsafah hidup, dan adat-istiadat khas Priangan. Konsumen pun dapat memilih beragam corak di antaranya yaitu sido mukti melati, turih oncom, rereng sepatu, merak ngibing, sido mukti sawat, sekar jagat, dan sulida.

Salah satu ciri khas Batik Tulis Garutan adalah kandungan warnanya yang wajib lebih dari tujuh macam warna. Kombinasi permainan warnanya cenderung cerah seperti hijau, biru, dan kuning. Ragam hiasnya pun kental dengan permainan bentuk bentuk geometrik baik diagonal, datar, maupun belah ketupat.

Dengan citranya sebagai produk budaya otentik, Batik Garutan bisa menjadi pilihan oleh-oleh berkelas dari Garut. Selain sebagai selendang dan pakaian, penggunaannya sudah sangat beragam bergantung pada kreatifitas seperti penghias selimut maupun ornamen hiasan dinding. (Yusuf Wijanarko/A-147)***

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/node/310314



   

Berita Lainnya

RE LAUNCHING DE MAJESTIC SEBAGAI TITIK AWAL KERJASAMA SINERGITAS PELESTARIAN & PENGEMBANGAN ASET BUDAYA UNTUK MEWUJUDKAN PARIWISATA JUARA
Berpulangnya Bapak BJ Habibie, Presiden RI ke-3, Rabu, 11 September 2019
KOLABOLARASI PENTAHELIX KUNCI KEBERHASILAN PENGEMBANGAN PARIWISATA JAWA BARAT
TOUR DE LINGGARJATI HADIR KEMBALI
KATON TOURISM EXPO


Kembali Ke Index Berita