Berita
Jelajah Cagar Budaya di Kota Kembang


Print


Bandung punya sederet bangunan cagar budaya. Arsitektur yang begitu antik, membuat wisatawan bisa melancong sekadar menjelajah beragam bangunan bersejarah tersebut.

Salah satu gedung bersejarah, sebut saja Gedung Konperensi Asia Afrika. Letaknya yang berada di jantung Kota Kembang membuat gedung itu menjadi salah satu destinasi wajib bagi para pelancong. Baik itu untuk mendatangi museum atau pun sekadar berfoto ria.

Selain Gedung Konperensi Asia Afrika, ada beberapa bangunan kawasan Asia Afrika yang juga memiliki nilai sejarah. Sebut saja gedung yang kini ditempati sebagai Bank NISP serta belokan Jalan Asia Afrika ke Jalan Banceuy yakni Bank Mandiri.

Meski masih banyak gedung bersejarah yang membuat Bandung begitu menarik, sisa-sisa bangunan cagar budaya atau heritage kota Bandung mulai tergerus modernitas bangunan baru saat ini.

Beberapa di antaranya telah berubah menjadi bangunan baru yang dipergunakan untuk bisnis. Sebagian lagi bahkan tidak terawat dan cenderung dibiarkan rusak begitu saja.

Anggota Bandung Heritage Society, Koko Qomara mengaku telah mendata banguan cagar budaya pada 2005 silam. Hasilnya, terdapat lebih dari 600 bangunan heritage di Kota Bandung.

Bahkan menurutnya angka tersebut cenderung meningkat di tahun berikutnya. Sebab salah satu syarat sebuah bangunan layak disebut bangunan heritage minimal telah berusia 50 tahun ke atas.

Dulu kota Bandung ini terkenal sebagai laboratorium-nya bangunan art deco. Dan dari 600 lebih bangunan yang ada, sekitar 80% nya masih terawat dan didominasi milik pemerintah, ada juga swasta dan kepemilikan pribadi, ungkap Koko.

Meski begitu, kata Koko, sebagian bangunan heritage yang tidak terawat biasanya dimiliki personal yang usia pemiliknya sudah sangat tua. Ada juga yang rusak begitu saja.

Secara mayoritas, sederet bangunan heritage di Kota Kembang sebenarnya masih terjaga dengan baik.

Sebut saja beberapa gedung yang ada disekitar Postweg Straat, seperti jalan Asia Afrika, jalan Braga, dan Alun-alun. Sisanya tersebar di jalan Riau, jalan Aceh, jalan Dago, dan di kawasan Bandung Utara yang dulunya diperuntukan sebagai permukiman pada masa lampau.

Berbeda dengan saat ini, bangunan heritage yang masih terjaga menjadi beralih fungsi. Katakanlah jalan Braga yang dulunya merupakan pusat butik fesyen ternama dan kelas menengah atas, kini lebih di dominasi menjadi restoran atau kafe.

Sebenarnya untuk alih fungsi bangunan sih tidak masalah. Yang terpenting bangunan tersebut tetap dijaga keasliannya dan hanya mengubah interiornya saja, tidak menambah atau mengurangi bentuk awal bangunan aslinya, ujar Koko.

Hanya ironisnya, di tengah bangunan heritage yang terjaga, masih ada sebagian bangunan yang rusak dan terbengkalai. Tidak digunakan, tidak dirawat, dan bahkan cenderung dibiarkan rusak. Lihat saja gedung Sarinah yang ada di jalan Braga Panjang dan Gedung Palaguna yang berada tepat di pinggiran jalan Alun-Alun.

Gedung Sarinah yang dulunya dikenal sebagai supermarket pertama di kota Bandung itu rusak berat. Sudah tidak nampak sama sekali sisa-sisa kejayaannya di masa lampau. Padahal pemberian nama Sarinah sendiri itu diberikan langsung oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno. (gin)

Sumber : http://www.inilahkoran.com/read/detail/2184791/jelajah-cagar-budaya-di-kota-kembang



   

Berita Lainnya

KUATKAN GELIAT PARIWISATA JABAR MELALUI JALINAN KERJASAMA PEMPROV JABAR DENGAN INDUSTRI BERBASIS ON LINE
ALUN ALUN SUMEDANG : SATU LAGI RUANG PUBLIK YANG JUGA AKAN JADI DESTINASI WISATA
GEDUNG SATE SALAH SATU DESTINASI WISATA YANG WAJIB DIKUNJUNGI DI BANDUNG
Satu Lagi Ruang Publik Yang Juga Akan Jadi Destinasi Wisata
MUNAS PHRI 2020 : "PHRI SIAP BANGUN PARIWISATA INDONESIA"


Kembali Ke Index Berita