Berita
Tradisi Maleman Sambut Lailatur Qadar di Keraton Kasepuhan


Print


CIREBON, (PR).- Bagi umat Islam yang berpuasa, mendapatkan malam lailatul qadar merupakan impian seumur hidup. Momen yang yang jatuh pada salah satu hari di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan itu menjadi sesuatu yang sangat istimewa. Untuk mengingatkan umat Islam tentang pentingnya sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, maka Keraton Kasepuhan menggelar tradisi maleman.

Menurut Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan, Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, tradisi maleman digelar sepuluh hari terakhir Ramadan. Tradisi itu sudah turun temurun sejak ratusan tahun lalu.

Diungkapkan Arief, tradisi itu ditandai dengan dinyalakannya lilin dan dlepak setiap malam tanggal ganjil bakda magrib. Waktu itu diprediksi merupakan jatuhnya malam lailatul qadar yang turun pada 10 hari terakhir Ramadan. Dlepak adalah wadah berupa piring dari tembikar yang diisi minyak maleman.

Untuk menyalakannya digunakan sumbu dari kapas yang sudah dipilin. Minyak maleman sendiri adalah minyak kelapa yang dimasak kembali dengan tambahan kembang tujuh rupa untuk memunculkan efek aroma harum.

Semua perangkat tradisi dibuat atau disiapkan oleh sejumlah perempuan yang dipimpin permaisuri Raden Ayu Isye. Barisan hajat maleman diberangkatkan ke Astana Gunungjati Kamis 15 Juni 2017 siang dari Keraton Kasepuhan.
Berjalan 10 kilometer

Sesuai tradisi rombongan pembawa hajat maleman harus berjalan kaki ke Astana Gunungjati yang jaraknya lebih dari 10 km dari Keraton Kasepuhan.

Rombongan terdiri dari pembawa tumbak, pembawa peti untuk makam Sunan Gunungjati, pembawa payung, dan 12 pembawa gerbong untuk makam panembahan dan sultan-sultan. "Begitu pentingnya arti mendapat malam lailatul qadar bagi umat Islam, sampai wali Allah, Sunan Gunung Djati berupaya mengejawantahkan malam penuh rahmat tersebut dalam simbol-simbol penuh makna," kata Sultan Sepuh.

Dlepak dan ukup serta minyak maleman didistribusikan juga ke 16 situs peninggalan Kesultanan Kasepuhan yang berlokasi di sekitar Cirebon. "Kamis malam atau malam Jumat merupakan malam pertama, lilin dan dlepak dinyalakan," katanya.

Pada sepuluh hari terakhir, terutama pada malam-malam ganjil yang disebut banyak ulama sebagai malam lailatul qadar, Sunan Gunung Djati menyalakan dlepak dengan minyak maleman dan membakar ukup setelah magrib.

"Tradisi itulah yang kemudian turun-temurun dilakuakan sampai saat ini," katanya. Diungkapkan Sultan Sepuh, tradisi ini mengingatkan umat Muslim agar tidak tidur pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.

Menurut dia, filosofi yang terkandung dalam tradisi maleman yakni menyambut para malaikat harus melekan (tidak tidur) dengan zikir dan doa, harus bersih, terang benderang, dan wangi.

Tradisi menyalakan lilin dan dlepak bukan hanya di Keraton Kasepuhan, tetapi juga di Astana Gunungjati, tempat sultan-sultan terdahulu dimakamkan.

Menurut Arief, tradisi itu akan diakhiri dengan hajat maleman pada malam ke-29 bersamaan dengan tradisi khataman kedua di langgar alit.

"Pada saat itulah akan dibagikan makanan alakadarnya yang disebut nasi bogana atau saboga-bogana kepada warga sekitar keraton dan makam Sunan Gunung Djati," kata Arief.***

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2017/06/16/tradisi-maleman-sambut-lailatur-qadar-di-keraton-kasepuhan-403357



   

Berita Lainnya

Geopark Ciletuh Primadona Wisata Libur Lebaran
Kabupaten Bandung Barat, Gudangnya Wisata Alam
Arti di Balik Logo Baru 10 Daerah Wisata di Indonesia
Curug Tilu Leuwi Opat, Wisata Air Terjun di Bandung
Bandung Masuk Ke-10 Branding Destinasi Pariwisata


Kembali Ke Index Berita