Berita
Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, Lir Kembang Desa Menanti Pinangan


Print


Jika tahun lalu Geopark Ciletuh-Palabuhanratu ibarat perawan yang memantaskan diri, kini dia mewujud sebagai kembang desa yang siap dipinang. Pangeran tampan berkuda putih yang akan meminangnya bernama UNESCO.

Akan tetapi, meski kini dia lebih cantik dan berwawasan, cobaan dan sejumlah kekurangan masih Geopark Ciletuh-Palabuhanratu miliki saat lembaga PBB yang bergerak di bidang Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan itu melakukan penilaian dan peninjauan pada 1-4 Agustus 2017.

Namanya juga kembang desa, dia memang cantik tapi kecantikannya hanya tersiar di lingkungan desa. Hanya satu-dua orang dari luar desa yang tahu tentang kecantikannya. Itulah sebabnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat terus menggenjot promosi Geopark Ciletuh-Palabuhanratu.

Tahun ini, sejumlah pewarta, fotografer, dan blogger kembali diundang untuk mengenal lebih intim pesona si kembang desa lantas mengabarkannya pada dunia. Saya bersama belasan orang lainnya pada 3-5 Agustus 2017 lalu mengunjungi sejumlah lokasi yang masuk kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu di Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi.

Lokasi yang dikunjungi yaitu Pulau Kunti, Puncak Darma, Pantai Palangpang, Curug Awang, Curug Cimarinjung, amfiteater alam, dan sentra batik pakidulan. Tahun lalu, saya juga mengunjungi sejumlah tempat yang sama dan kini menyaksikan perubahan yang layak diapresiasi.

Hal yang dirasa paling banyak berubah adalah akses menuju sejumlah objek penelitian dan objek wisata di Kecamatan Ciemas. Jalanan yang tahun lalu berbat—dengan debu tebal yang berhamburan saat tergilas roda kendaraan—kini sudah tiada.

Jalanan utamanya sudah dilapisi aspal mulus yang memanjakan mereka yang ada di balik kemudi. Tanjakan demi tanjakan bisa dilalui tanpa kesulitan meski tetap dibutuhkan kewaspadaan karena rutenya yang menatang.

Ruas jalan utama di Kecamatan Ciemas memang sudah lebih bersahabat. Namun tak demikian dengan jalanan yang letaknya agak menjorok ke pedalaman. Jalannya masih berbatu. Proses pekerjaan jalan masih berlangsung seperti yang terjadi di akses menuju Puncak Darma. Pekerjaannya yang bak kerja Sangkuriang dilakukan siang dan malam demi mengejar target selesai Desember 2017 ini.

“Jalanan masih berbatu. Saya harus berhati-hati agar penumpang yang diantar ke Puncak Darma tidak jatuh. Tahun depan jalan akan selesai dibangun,” ujar tukang ojek yang mengantar saya menyaksikan senja di Puncak Darma, Jumat 4 Agustus 2017.

Selain itu, museum sudah dibangun. Sarana berupa papan informasi sudah banyak dipasang. Rumah-rumah warga yang dijadikan penginapan terus dibenahi demi kenyamanan. Wawasan dan kecakapan para pemuda lokal yang menjadi pemandu sudah bisa diandalkan.

Nurjaman Agus Faisal—tokoh pemuda setempat yang menjadi pemandu saya—bercerita bayak hal mulai dari potensi wisata sampai permasalahan sosial yang dialami warga. Gaya bertuturnya sudah mendekati para pemandu wisata bersertifikat nasional.

Di balik semua itu, masih terdapat sejumlah kekurangan. Alat transportasi masih terbatas dan seadanya. Perahu yang bisa digunakan untuk mengantar wisatawan melihat gugusan batuan purba hanyalah perahu cadik milik nelayan.

Restoran yang menyajikan santapan khas Sukabumi terutama hidangan laut bisa dihitung sebelah tangan. Pengelolaan objek wisata belum jelas. Uang hasil retribusi tak jelas ke mana bermuaranya. Soal kebersihan, tak perlu dibahas panjang. Sampah plastik masih banyak berserakan.

”Fasilitas selfie di Puncak Darma entah kenapa dibongkar. Ada yang bilang pengelolaannya tumpang tindih. Katanya uangnya masuk ke kantong oknum polisi dan sebagainya,” ujarnya.

Ujian lainnya datang dari perilaku tak terpuji masyarakat kita. Beberapa waktu lalu, jagat maya dihebohkan foto penunggang sepeda motocross yang melindas batuan burba Punggung Naga di lepas pantai Ciletuh. Fotonya pun viral di media sosial. Pengawasan pihak berwenang, dalam hal ini Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam harus diperketat. Terkait apakah ulah teu nyakola masyarakat kita itu bisa menjadi parut buruk di wajah si kembang desa saat dinilai UNESCO, semoga tidak.

Layaknya pangeran yang sedang memilih calon pendamping, UNESCO tentu masih menimbang-nimbang dengan penuh perhitungan apakah Geopark Ciletuh-Palabuhanratu layak masuk dalam jajaran geopark global. Proses sampai naik ke palaminan pun masih panjang.***
Sumber : http://pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2017/08/07/geopark-ciletuh-palabuhanratu-lir-kembang-desa-menanti-pinangan-406863



   

Berita Lainnya

Aher Raih Penghargaan Pejabat Peduli Museum
110 Surfer Hadir Di Amazing Geopark Adventure Tourism
Kesejukan Air Curug Cimedang Jadi Daya Tarik Wisatawan
Ada Dua Cagar Budaya Baru di Bekasi
Curug Parigi Bantargebang Ditata sebagai Objek Wisata


Kembali Ke Index Berita