BALAI PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA, NILAI BUDAYA DAN SEJARAH

Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat\\\\r\\\\n\\\\r\\\\nMasyarakat Jawa Barat telah menerima tradisi sejak lama untuk bergaul menyatu dengan alam. Manusia bagian dari alam yang merupakan suatu kesatuan harmonis. Gambaran paduan yang harmonis itu antara lain diungkapkan dalam pantun dan tembang, menjadi ciri khusus pelulusan Tatar sunda dengan bobot syukur kepada Maha Pencipta. Bagaimana alam itu menjadi sumber inspirasi, pendorong semangat hidup, bahkan menjadi tempat balik geusan ngajadi, sejarah merupakan bagian dari irama hidup itu sendiri, seperti irama angina, gunung-gunung, pepohonan yang merupakan:\\\\r\\\\n• Gerak dari masa lalu( wangsit seweu siwi)\\\\r\\\\n• Gerak masa kini (wanci kiwari)\\\\r\\\\n• Gerak masa akan dating (nu bakal kasorang)\\\\r\\\\nGerakan bagi masyarakat Jawa Barat,tercermin pada sifatnya yang dinamis, pluralis dan demokratis. Diungkapkan dalam peribahasa : Silih Asuh , Silih Asah , Silih Asih\\\\r\\\\n\\\\r\\\\nKonsep Monumen\\\\r\\\\n\\\\r\\\\nKebudayaan sunda tidak mengenal pusat (sentral). Melainkan tersebar di berbagai tempat. Hal itu sebagai ciri dari sifatnya yang plural, dinamis dan demokratis. Ciri itu digubah kedalam konsep bentuk Monumen yang tidak tunggal, tetapi plural. Bentuk monumen diwujudkan dalam lima unsur bentuk yang menjadi satu kesatuan harmonis (beungkeutan) yang satu sama lain hampir menyerupai .\\\\r\\\\ntiada perjuangan tanpa persatuan jadi harus merupakan satu ikatan, (hiji beungkeutan),tetapi untuk menjadi satu ikatan persatuan memerlukan perjuangan, singkatnya : perjuangan untuk persatuan dan persatuan untuk perjuangan. (Lihat : H.A.KUNAEFI. Pola piker jawa barat Jawa Barat dalam mewujudkan tujuan nasional Pemerintah Daerah Jawa Barat 1985). Pada hakikatnya merupakan karakterisasi perjuangan rakyat jawa barat dari masa ke masa , yang mengandung nilai nilai hakiki budaya dan perjuangan rakyatnya.\\\\r\\\\nKarakteristik perjuangan itu digambarkan kedalam bentuk yang merupakan satu rumpun, dimana bentuk bentuknya saling mengisi, saling berdialog, sperti halnya pokok pikiran seperjuangan dan persatuan . satu rumpun yang saling berdialog itu diungkapkan kedalam perlambangan rumpun bamboo yang berkesan :\\\\r\\\\n“Awi Gede Gunanadina kahirupan sapopoe, ti mimiti lahir nepi ka maot”\\\\r\\\\n(bambu berguna dalam kehidupan sehari-hari, sejak mulai lahir sampai mati)\\\\r\\\\n“Bambu runcing” (alat perjuangan zaman revolusi fisik)\\\\r\\\\n“Palupuh” yang dapat ditafsirkan seperti “Ka palupuh, nangtung, kapimilik”\\\\r\\\\n(palupuh nangtung = bilik , kapimilik = dimiliki)\\\\r\\\\n\\\\r\\\\nWujud Monumen \\\\r\\\\n\\\\r\\\\nBerdasarkan konsep diatas, wujud monument diubah tidak tunggal, melainkan jamak. Tidak kaku, melainkan luwes, plastis. Sebagai perwujudan yang melambangkan salah satu sifat orang suda, luwes, ramah-ramah (darehdehh,someah) terbuka dan tidak tertutup. Tidak massif, melainkan teranyam dengan ruang alam. Sekitarnya sebagai rumpun komposisi gubahan yang ritmis arsitektural ( ibarat dapur awi = seperti rumpun). Untuk sampai pada bagian dalam inti monument, pengunjung harus menaiki tangga (pendakian). Cahaya alam jatuh diatas dinding monument yang akan menampilkan relung-relung artistic, bernuansa tajam.\\\\r\\\\nCahaya alam digubah, merupakan bagian yang memperindah keplastisan bentuk monumen . orientasi monumen ke segala arah seuai dengan sifat masyarakat sunda yang tidak tertutup ,terbuka untuk menerima perubahan atau hal-hal yang baru. Tatanan dan sopan santun imah sunda dicerminkan kedalam penataan tahapan (ruang) monument yang fisiknya terdiri dari golodog , tepas , tengah , segog , dan buruan .\\\\r\\\\nSilhouette bentuk keseluruhan monumen mengungkapkan garis tradisi sunda dalam bentuk rumah dan lingkungan yang biasa disebut satria lalaku, yang berorientasi pada sumbu utara-selatan. Letak monumen ,selain tepat pada sumbu utara-selatan, juga tepat pada cagak gunting, titik pertemuan jalan jalan diagonal. Gubahan bentuk monument mengungkapkan karakter-karakter imah sunda, seperti : Badak Heuay , Galudra Ngupuk , Julang ngapak dan Jangga wiranga. Sedang keseluruhan silhouttenya mengungkapkan satria lalaku.\\\\r\\\\n\\\\r\\\\nSejarah berdirinya monument\\\\r\\\\n\\\\r\\\\nmonumen perjuangan rakyat jawa barat dibangun sebagai wujud penghargaan terhadap jasa-jasa pahlawan khususnya pahlawn yang berasal dari jawa barat serta sebagai saran dalam upaya mewariskan nilai nilai perjuangan kepada generasi penerus bangsa. Bangunan monumen perjuangan rakyat jawa barat ini berbentuk bamboo runcing yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern , dirancang oleh arsitek asli kota bandung yaitu Slamet Wirasonjaya dan perupa Sunaryo.\\\\r\\\\nPenetapan lokasi pembangunan monumen perjuangan rakyat jawa barat ini berdasarkan surat keputusan gubernur jawa barat Nomor 593.82/sk.133.Pem.Um/82, tanggal 28 Januari 1982, tentang penetapan lokasi untuk pembangunan monumen perjuangan rakyat jawa barat.\\\\r\\\\nPenetapan lokasi tersebut berporos pada pusat pemerintahan Provinsi Jabar / Gedung Sate dengan latar belakang gunung tangkuban parahu . monumen perjuangan rakyat jawa barat diresmikan oleh gubernur Jawa Barat dimulai pada tahun 1995, berdiri di atas tanah seluas ±72.040 m2, dengan luas bangunan2.143 m2.\\\\r\\\\nPada awal pembangunan, pengelolaan monumen perjuangan rakyat jawa barat beberapa kali mengalami perpindahan tangan , mulai yayasan dharma bakti, balai pengelolaan museum sri baduga sebagai salah satu UPT Dinas Pariwisata dan Budaya Daerah Provinsi Jawa Barat,Biro pengembangan sosial sekretariat daerah provinsi jawa barat, Biro Humas dan Umum Sekretariat Daerah provinsi Jawa Barat bersama dengan Subbagian kepahlawanan dan kejuangan Sekretariat Daerah Provinsi jawa barat , dan pengelolaannya berada dibawah balai pengelolaan cagar budaya , nilai budaya dan Sejarah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.\\\\r\\\\n\\\\r\\\\nJalan Dipati Ukur No. 48 Bandung 40132




Email : bpcbnbs@yahoo.co.id

Event

1.\\\\r\\\\n2.\\\\r\\\\n3.

Kembali ke UPTD Disparbud