Kuda Renggong

05-08-2011 Kabupaten Sumedang 9719 baca


Mungkin istilah Kuda Renggong sudah tidak asing lagi di telinga Anda, namun belum banyak yang mengenal sejarah atau filosofinya. Kata Renggong di dalam Kuda Renggong merupakan metatesis dari kata ronggeng yaitu kamonesan (keterampilan) cara berjalan kuda yang telah dilatih untuk menari mengikuti irama musik terutama kendang. Ada dua kategori pertunjukkan Kuda Renggong, yaitu sebagai kuda tunggangan dalam arak-¬arakan anak sunat dan Kuda Renggong yang dipertontonkan pada saat-saat tertentu seperti upacara peringatan hari besar, menerima tamu kehormatan, atau festival.
Untuk acara sunatan, Kuda Renggong dipagelarkan sehari sebelum pelaksanaan menyunat. Setelah anak sunat selesai mengikuti upacara khusus dan diberi doa, selanjutnya dengan berpakaian wayang tokoh Gatotkaca (khusus anak sunat laki-laki), anak sunat tersebut dinaikkan ke atas Kuda Renggong, untuk kemudian diarak mengelilingi desa. Ketika anak sunat diturunkan dari Kuda Renggong, biasanya dilanjutkan dengan acara saweran (menaburkan uang logam dan beras putih). Acara sawer ini, menjadi acara yang ditunggu-tunggu, terutama oleh anak¬anak desa.
Berbeda dengan pertunjukan pada acara sunatan, para peserta festival Kuda Renggong, biasanya dikumpulkan di area awal keberangkatan, di jalan raya depan kantor Bupati. Mereka berasal dari perwakilan desa atau kecamatan se¬-Kabupaten Sumedang. Sebelum festival dimulai, para peserta dilepas satu persatu mengelilingi rute jalan yang telah ditentukan panitia. Sementara pengamat yang bertindak sebagai Juri disiapkan menilai pada titik-titik jalan tertentu yang akan dilalui rombongan.
Dari beberapa pertunjukan yang dilaksanakan, terlihat kreatifitas dari masing-masing rombongan, seperti adanya penambahan jumlah Kuda Renggong (rata-rata dua bahkan empat). Selain itu, terdapat pula penambahan aksesoris kuda, yaitu dengan payet-payet berwarna merah keemasan dan payung-payung kebesaran, tarian pengiring pun ditata apik, sementara musik pengiring Kendang Pencak divariasikan dengan gamelan untuk bajidoran, tanjidor, dangdutan.
Makna simbolis dari pertunjukkan Kuda Renggong diantaranya adalah makna spiritual. Spirit yang dimunculkan merupakan rangkaian upacara inisiasi (pendewasaan) dari seorang anak laki¬laki yang disunat. Selanjutnya makna interaksi antar mahkluk Tuhan. Kesadaran para pelatih Kuda Renggong dalam memperlakukan kudanya, tidak semata-mata seperti layaknya pada binatang peliharaan, tetapi memiliki kecenderungan memanjakan bahkan memposisikan kuda sebagai mahkluk Tuhan yang dimanjakan. Makna universal, sejak jaman manusia mengenal binatang Kuda, telah menjadi bagian dalam hidup manusia di pelbagai bangsa di pelbagai tempat di dunia. Bahkan kuda banyak dijadikan simbol-simbol, kekuatan dan kejantanan, kepahlawanan, dan kewibawaan
Lokasi:  Desa Cikurubuk, Kecamatan Buah Dua
Telepon: -
Email: -
Internet: -
Arah:  -
Fasilitas: -
Jam Buka: -
Tutup: -

Tiket: -    

Informasi Lebih Lanjut: -



 



Objek Wisata Lainnya