Calung Kiwari

10-01-2012 Kota Bandung 29181 baca

Print


Calung Kiwari bisa di sebut juga Calung Modern karena di lihat dari cara penyajian pertunjukkannya dan gayanya. Calung Kiwari merupakan perkembangan dari pertunjukkan Calung biasa karena waditra utamanya adalah Calung Jingjing. Meskipun demikian masyarakat cukup menyebut Calung saja.
 
Dalam pertunjukkannya Calung Kiwari atau Calung Modern tidak lagi menyajikan lagu-lagu buhun seperti lagu Ucing-ucingan, Tokecang, Tonggeret, Trangtrang Kolentrang, Renggong Angle, Aha­ehe dan lain-lain. Calung Kiwari lebih banyak menyajikan lagu hasil karyanya sendiri atau meniru lagu­lagu dari hasil karya grup Calung yang lain.
 
Sekitar tahun 1964 sampai 1966-an, beberapa karyawan Taspen Bandung mencoba menampilkan Calung dengan gaya dan lagu-lagu yang bukan lagu buhun. Lagu yang di sajikan yaitu lagu Pop Sunda, Keroncong dan Pop Indonesia. Iringannya yaitu tetap memakai Calung Jingjing yang bertangga nada Pentatonis (Pelog dan Salendro). Calung gaya Taspen tersebut akhirnya merebak dan berkembang di masyarakat. Grup Calung yang paling menonjol dan agak mahiwal adalah Grup Calung Mayangsari yang beralamat di Asrama Polisi Jalan Samoja Kota Bandung, pimpinannya yaitu Letnan Ading (Alm) arahan Yayat Kusna Hidayat.
 
Dalam pertunjukkannya, Calung Mayangsari berbeda dengan yang lain yakni selain menyajikan lagu ciptaannya sendiri seperti Ratu Pantai, Jongos dan sebagainya, pemainnya pun merangkap sebagai pelawak seperti dalam per{unjukan Calung biasa. Akan tetapi gaya dan penampilan serta busana yang di kenakan tidak mempergunakan busana tradisional seperti Kampret, Pangsi, Totopong dan Kain Sarung melainkan Celana Joki Kuda, Baju seperti Matador dengan renda dan Pita sebagai pengganti Dasi serta Sepatu dengan hak tinggi dan' panjang (seperti sepatu Cowboy dalam Film Barat).
 
Gaya dan penampilan yang unik ini tentu saja mengundang pro dan kontra dari semua pihak bahkan sempat seorang Jurnalis menulis di Surat Kabar Harian Umum Pikiran Rakyat yaitu dengan julukan Calung Rock. Pada tahun 1978 atas prakarsa Bapak Pepe (Alm) di selenggarakan Penataran Sehari Calung Kiwari yang bertempat di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) di JI. Naripan Bandung dengan di hadiri para penggarap Calung dan para tokoh masyarakat di daerah se Jawa Barat.
 
Pembicara dalam Penataran tersebut ialah Drs. Nana Darmana. Koko Koswara (Mang Koko, Alm) serta Bapak Pepe (Alm). Para penatar tersebut rata-rata menjeiaskan tentang sejarah dan keberadaan Calung. Mang Koko pun berkata "Utah cul Dogdog tinggal igel". Pada malam hari penataran tersebut di tampilkan Grup calung Mayangsari yang mendapat julukan Calung Rock Iengkap dengan busana ala Matadornya.
 
Para penonton yang kebanyakan utusan daerah tercengang melihatnya karena sebelum menyajikan lagu-lagu ciptaannya sendiri di buka dengan lagu Kidung dan Rajah.
 
Walau pun dalam penyajiannya Grup Calung Mayangsari berpenampilan unik, namun ketika mengikuti Pasanggiri Calung tetap mempergunakan busana tradisional, bahkan sempat meraih juara pertama Pasanggiri Calung se Kodya Bandung pada tahun 1975 dan pada tahun 1978 menjadi juara pertama Pasanggiri Calung Tingkat Propinsi.
 
Di Kampung Pintu Loji Desa Banjaran Kota Kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung pernah ada Grup Calung Mas Popon pimpinan Ny. Popon. Selain Calung Jingjing waditra lain yang di gunakan yaitu Kendang dan Goong di lengkapi dengan 2 buah Gambang Awi yang dalam pertunjukkanya di tabuh sambil berdiri. Bentuk dari Gambang ini seperti Gambang dalam perangkat Arumba namun lebih sederhana.
 
Calung Kiwari kini lebih berkembang lagi karena selain Calung Jingjing, Kendang dan Goong sebagai waditra utamanya di lengkapi puia dengan aiat musik seperti Remo (Bongo kecil yang terdiri dari empat buah), Tamborin, Symbal bahkan ada beberapa Grup calung yang melengkapi dengan alat eletrik seperti Electone, Organ atau Gitar. Lagu yang di bawakan selain lagu-lagu Pop Sunda yang bertangga nada Pentatonis juga lagu-jagu Dangdut yang bertangga nada Diatonis. Lawakan yang di hadirkan di perankan oleh Pelawak khusus selain sebagai selingan mungkin memberi waktu untuk istirahat kepada pemain Calung.
 
Penyanyi dalam Calung selain Pria (Wiraswara) juga banyak di kenal Juru Sekar Calung yang terkenal baik di Pedesaan maupun Perkotaan. Juru Sekar yang terkenal dalam pertunjukkan Calungnya di antaranya Yetti Syarifah, Deti Kurnia, Sany Adis, Yuyun Adis (Sekarang mengajar di SMKN 10 Bandung) serta Mimin Mintarsih. Ada pula para penggubah lagu-lagu Calung seperti Uko Hendarto, Tono Adiwidjaya, Ambi Sumarya (Adhoet Afero), Ade Sofyan, Rahmat Dipradjja (Penyiar dan Juru Dongeng Tunggal Radio Garuda dan sekarang pindah ke Radio Sangkuriang), Yayat Kusna Hidayat serta Youdhaswara.
 
Selain itu ada pula beberapa Grup Calung yang tercatat dan sempat berkembang di masyarakat. Dari Kota Bandung di antaranya GC. Questa, GC. Layungsari, GC. Mayangsari, GC. Megasari, LS. Setia Putra, LS. Mitrapenka, GC. Dialoka, GC. Putri Gema Sukapura (Ibu Dharma Wanita Brimob, Sukajadi Bandung), GC. Dayasari dll. Setelah tahun 1970-an sampai sekarang banyak bermunculan pula Grup Calung di tiap daerah di Tatar Sunda bahkan hingga ke Lampung Sumatera Selatan. Rata­rata dalam pertunjukkannya sudah tidak lagi menyajikan lagu-lagu buhun melainkan terpengaruh oleh musik lain seperti Dangdut dan Pop.
 
Lokasi:  -
Telepon: -
Email: -
Internet: -
Arah:  -
Fasilitas: -
Jam Buka: -
Tutup: -
Tiket: -
Informasi Lebih Lanjut: -

 



Objek Wisata Lainnya