Topeng Barangan atau Babakan

02-08-2011 Kabupaten Cirebon 1620 baca


Sesuai dengan artinya, pertunjukan topeng barangan adalah pertunjukan keliling yang dilakukan atas inisiatif sebuah rombongan topeng. Bebarang (bhs. Jawa) artinya sama dengan ngamen atau pertunjukan keliling. Pigeaud menyebut pertunjukan topeng itu dengan pertunjukan topeng kecil atau topeng babakan. Pertunjukan topeng kecil atau topeng babakan, adalah tontonan jalanan yang dimainkan oleh orang-orang yang berkeliling (wong bebarang) yang melakukan pertunjukan di mana saja menurut permintaan orang yang menanggap, sedangkan bentuk penyajiannya diatur menurut babakan, sesuai dengan banyaknya “babak” yang diminta. Satu tarian dianggap satu babak.
Dalam sebuah catatan lama, disebutkan bahwa: Satu babak adalah satu pementasan yang lamanya kurang lebih antara 10 sampai 15 menit. Dan antara f0, 10 sampai dengan f0, 25 ongkosnya, dan penari-penari diberi wewenang untuk menerima sumbangan (sarayuda) dari para penonton dengan cara membawa baki berkeliling. Pendapatan tambahan ini kadang-kadang melebihi dari upah yang telah ditentukan dan tergantung dari kemahiran penarinya, lebih-lebih kalau ini seorang penari wanita, yang segalanya menarik, paling sial orang akan memberikan 5 sen bahkan sepicis, yang pada keadaan lainnya hanya beberapa sen saja atau segobang (2,5 sen).
Personal topeng barangan, biasanya hanya sekitar tujuh sampai dengan delapan orang. Gamelannya dibawa dengan cara dipikul. Oleh karena itu, tak banyak istrumen/gamelan yang dibawa. Gamelan barangan termasuk gamelan ensembel kecil terdiri atas: dua buah saron, kendang indung dan kulanter, gong dan kiwul, kecrek/keprak, tutukan dan kebluk. Ini mudah dipahami, sebab apabila seluruh kelengkapan gamelan dibawa, selain terlalu banyak, beban yang harus dipikul juga membutuhkan banyak orang. Perlu diketahui, bahwa gamelan topeng yang lengkap paling tidak membutuhkan 13 orang nayaga. Mereka adalah penabuh saron dua orang, kedemung, goong, kendang, beri, tutukan dan kebluk, kemanak, klenang, bonang dan rincik, titil, jenglong, kenong, dan keprak (penabuh keprak biasanya merangkap sebagai bodor).
Ciri pokok topeng bebarang, selain seperti yang diterangkan di atas, juga tari-tari yang ditampilkannya selalu berdasarkan permintaan penanggap. Setiap kedok ditarikan dalam waktu yang singkat, sekitar 10 sampai dengan 15 menit. Setiap tari selesai, penanggap memberikan uang sebagai imbalannya. Ada pula yang memberikan tambahan imbalan dengan beras, padi, minuman, atau makanan. Penghasilan tambahan bagi wong bebarang didapat dari saweran, yakni uang yang sengaja dilemparkan penonton ke area menari. Uang yang berjatuhan dan bertebaran itu, baik uang logam maupun kertas, dipungut oleh salah seorang di antara nayaga.
Topeng barangan biasanya dilakukan manakala di daerah tempat tinggal mereka musim paceklik tiba dan di daerah lain tengah musim panen. Pada zaman dulu, mereka berkeliling sampai ke daerah Priangan Timur, yaitu yang berasal dari kabupaten Cirebon (khususnya dari Palimanan). Sumedang, Tasikmalaya, Ciamis, dan Bandung adalah jalur bebarang mereka di bagian Timur dan Tengah Priangan. Kota-kota inilah yang dulu dianggap paling maju di bidang budaya (khususnya topeng). Sedangkan kabupaten-kabupaten yang letaknya lebih ke utara dan barat, seperti Karawang, Bogor, Cianjur dan Sukabumi agaknya topeng hanya sedikit atau bahkan tidak ada. Di bagian Barat, topeng hidup di daerah Betawi dan sekitarnya, atau kini daerah Jabotabek dengan sebutan khusus yakni Topeng Betawi.
Dari pertunjukan jenis inilah salah satu persebaran topeng terjadi. Adakalanya mereka menetap di suatu daerah dan tidak kembali ke kampung atau desa asalnya, atau juga mendapat jodoh dengan wanita atau pria di luar desanya dan pindah, menetap di desa tempat istri atau pria itu berasal.
Topeng Barangan mempunyai beberapa fungsi, antara lain sebagai media penyebaran agama Islam di tanah Jawa yang dilakukan oleh para Wali. Ketika tanah Jawa telah berhasil diislamkan, topeng barangan kemudian beralih fungsi, tidak lagi menjadi bagian dari syiar Islam, akan tetapi menjadi kasab (pekerjaan) untuk mencari nafkah bagi para senimannya. Di samping itu, fungsi lainnya adalah sebagai ajang pembelajaran bagi calon dalang topeng. Pada barangan-lah seseorang yang akan menjadi dalang topeng ditempa keterampilan dan keberaniannya tampil di muka umum.

Sumber : Toto Amsar Suanda



Objek Wisata Lainnya