Ajeng - Gamelan

07-10-2011 Jawa Barat 23883 baca

Print


Ajéng adalah suatu perangkat gamelan yang terdapat di Jawa Barat, yang kelengkapan instrumentasinya (jumlah waditra) hapir sama dengan satu perangkat gamelan pelog. Ada dua jenis ajéng yang amat berbeda gayanya, pertama yang terdapat di daerah Sumedang, dan kedua terdapat di wilayah Karawang dan Bogor (khususnya di Kecamatan Cileungsi).
Tidak ada dokumen yang menunjukkan kapan gamelan ajéng lahir, tapi dari karakternya yang mengutamakan waditra gong-berangkai (gong chimes) yang merupakan ciri ensambel musik di Asia Tenggara, ensambel ini merupakan jenis gamelan yang amat tua. Jaap Kunst, etnomusikolog Belanda yang mengadakan penelitian gamelan pada tahun 1920-an, melaporkan tentang ajéng yang ada di kampung-kampung di dataran tinggi timur Sunda, seperti di daerah Sumedang. Keduanya kini termasuk jenis musik yang makin kurang mendapat ruang dalam dunia seni pertunjukan di Jawa Barat. Berkurangnya pertunjukan ajéng itu, pertama adalah karena kurangnya apresiasi atau perhatian masyarakat, sehingga tidak beminat menanggap. Kedua, akibat dari pertama, karena makin sedikit, kalau bukan tidak ada lagi yang menanggap, seniman yang memahami lagu-lagu ajéng itu pun makin tiada.
Perbedaan dari kedua gaya ajéng itu, di Sumedang (wilayah pegunungan) instrumentasinya lebih mendekati ensembel gamelan rénténg, sedangkan yang di Karawang dan Bogor (wilayah pantai) lebih mendekati ensambel gamelan saléndro atau pélog. Selain itu, jika ajéng Sumedang tidak memakai alat melodis (walau kadang-kadang ada yang memakai suling), ajéng Karawang dan Cileungsi memakai tarompet¸ yang biasa digunakan dalam ensambel gendang penca.
Ajéng Sumedang digunakan hampir khusus untuk penyambutan tamu, seperti halnya gamelan gamelan rénténg atau degung (dahulu). Melodi utamanya dibawakan oleh bonang, tidak memakai vokal (penyanyi, sinden), melulu instrumentalis. Penempatan gamelannya di atas panggung yang dibuat tinggi sekali, sekitar 2-3 meter, dan sering dibangun di ―mulut‖ kampung, walau jauh dari yang punya hajat. Penonton (tamu undangan) yang lewat, tidak bisa melihat senimannya, hanya suaranya. Ajéng Sumedang tidak hanya dikenal di wilayah Kabupaten Sumedang saja, tapi paling tidak sampai ke Kabupaten Majalengka. Sampai awal tahun 1960an awal, ajéng dari Sumedang ada yang diundang pertunjukan di Majalengka, di antaranya adalah pada suatu acara peresmian gedung SKP (Sekolah Kepandaian Putri) di kota Majalengka.

Ajéng Karawang (dan Cileungsi) juga memiliki persamaan dengan di Sumedang, dalam hal bahwa ensambel ini dasarnya adalah instrumental, dan dimainkan di panggung tinggi untuk bisa terdengar lebih jauh, sebagai ―kabar‖ tentang adanya selamatan. Persamaan dari sisi konteksnya, baik ajéng Sumedang maupun Karawang sekarang merupakan jenis kesenian langka yang mendekati kepunahan jika tidak ada upaya pelestarian strategis. 



Objek Wisata Lainnya