Tarawangsa - Pertunjukan

26-10-2011 Jawa Barat 8446 baca


Tarawangsa tersebar di berbagai daerah di Jawa Barat, antara lain di Rancakalong-Sumedang, Cibalong dan Cipatujah-Tasikmalaya, Banjaran-Bandung, Tanjung Siang-Subang, pada umumnya difungsikan untuk berbagai media upacara adat tradisional (ngalaksa, bubur sura, mapag sri), dan untuk berbagai hiburan (khitanan, perkawinan, perayaan kenegaraan, dan lain-lain). Tata cara penyajiannya dibedakan sesuai dengan fungsinya. Jika terkait dengan sebuah upacara, ngalaksa atau mapag sri, misalnya, maka penyajiannya harus memperhatikan berbagai hal, baik yang berkaitan dengan persyaratan upacara (waktu, tempat, sesaji, pelaku) maupun urutan penyajiannya. Akan tetapi, jika pertunjukan itu hanya untuk hiburan, maka persyaratan seperti tersebut tidak terlalu diperhatikan.
Di Rancakalong dan di Cibalong, Cipatujah, tarawangsa dijadikan salah satu media upacara penghormatan terhadap Dewi Sri (Dewi Padi) atau Nyi Pohaci Sanghyang Sri. Ritus tersebut intinya merupakan ekspresi kebahagiaan dan rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang didapat. Akan tetapi, di Cipatujah dan Cibalong, ritus Dewi Sri sudah mulai pudar, begitu pun di daerah lainnya. Sedangkan di daerah Rancakalong, ritus tersebut masih tetap dilaksanakan sampai kini.
Di Rancakalong, ritus Dewi Sri atau ngalaksa biasanya dilaksanakan setelah panen, sekitar bulan Juni dan Juli. Sedangkan ritus Bubur Sura, dilaksanakan pada tanggal 10 Muharam yang berkaitan dengan kisah Nabi Nuh. Pelaksanaannya bisa berhari-hari, antara tiga hari sampai seminggu, dan tarawangsa dimainkan siang dan malam. Dalam alunan musik tarawangsa, berkelindan para penari, laki-laki dan perempuan. Mereka menari dengan khusuk bahkan sampai trance atau kasurupan (kemasukan).
Lagu pokok tarawangsa ada enam buah dan tersusun menjadi satu komposisi musik yang utuh. Susunan lagunya terdiri atas: Saur, Pangapungan, Pamapag, Mataraman, Iring-iringan, Keupat Eundan yang disambung dengan Badud. Sedangkan lagu-lagu hiburan, yakni lagu-lagu setelah keenam lagu selesai, kurang lebih ada 50 buah lagu, antara lain: Jemplang, Jemplang Panimbang, Sirnagalih, Angin-angin, Angin-angin, Rincik, Dengdo, Karatonan, Degung, Pancawarna, Reundeu, Reundeu Reuncang, Buncis, Panganyiran, Limbangan, Bangun, Bangun Sawarga, Bangun Salancar, Koromong, Legon, Pasawahan, Bobontengan, Panimbang, Onde-onde, Euleuh-euleuh, Engket-engket, Guar Bumi, Pangbalikan, Pangameut, dan lain-lain. Dalam lagu hiburan, para penonton (pria-wanita) bisa ikut berpartisipasi, menari bersama-sama.
Di setiap daerah, tarawangsa mempunyai lagu tersendiri, misalnya Pangrajah, Bajing Luncat, Bojong Kaso, Cukleuk, di Banjaran. Salancar, Ayun, Cipinangan, Mulang, Manuk Hejo, Kang Kiai, Pangungsi, di Cibalong-Tasikmalaya. Berbeda dengan tarawangsa di Rancakalong yang lagu-lagunya hanya berupa melodi instrumental, calung tarawangsa di Cibalong memakai juru kawih. Oleh sebab itu setiap lagu memakai rumpaka (syair). Sebagai contoh, bisa disimak salah satu syair dalam lagu ayun yang menggambarkan tentang puja-puji terhadap Dewi Sri, berbunyi sebagai berikut:
Diayun-ayun ku ibu
diemban-emban ku rama
diayun di bale bandung
diayun ku cinde wulung
diemban ku sutra kembang
bade ngayun putra ratu
bade ngemban putra menak
putra ratu nu kapungkur
putramenak nu baheula
bade ngawih putra mantri
badenimbang putra raja
putri mantri nu mimiti

putra raja nu ti heula 



Objek Wisata Lainnya