Artikel

Situ Cileunca, Wisata Danau Penuh Cerita

22-09-2014 182 baca

Selain pemandangan alam yang eksotis, objek wisata Situ Cileunca juga memilik cerita mistis hingga berbagai keceriaan.

Hingga kini masih ada sebagian warga percaya beberapa cerita mistis terkait Situ Cileunca. Meski begitu tidak sedikit wisatawan dari dalam maupun luar negeri, pulang membawa oleh-oleh cerita kegembiraan yang tak terlupakan seumur hidup.

Danau seluas 180 hektare ini berada di atas ketinggian 1.550 mdpl, merupakan danau buatan. Situ Cileunca diapit Desa Warnasari dan Pulosari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kedua desa dikenal sebagai penghasil sayur-mayur seperti kol, kentang, cabai, wortel, tomat, dan buah stroberi.

Area Situ Cileunca awalnya dimiliki Kuhlan, seorang tuan tanah berkewarganegaraan Belanda. Dia membangung Situ Cileunca kurun waktu 1919-1926 dengan cara membendung Sungai Cileunca sehingga terbentuk danau seperti sekarang.

Konon cekungan danau ini, tidak dibuat dengan cara menggali tanah menggunakan alat bantu seperti cangkul. Sejumlah masyarakat mendapat cerita dari leluhur mereka, cekungan danau dibuat menggunakan halu atau alat penumbuk padi.

Kini Situ Cileunca mampu menampung hingga 9,89 juta m3 air yang digunakan menjadi modal penggerak tiga turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) utama di Pangalengan. PLTA tersebut bernama Plengan, Lamajan, dan Cikondang.

Air dari Situ Cileunca kemudian dialirkan ke Sungai Palayangan. Sebagian besar air itu dimanfaatkan penduduk untuk mengairi area perkebunan dan sawah. Selain untuk keperluan tersebut, sumber air dari Situ Cileunca juga digunakan sebagai cadangan sumber air bersih Kabupaten Bandung dan Kota Bandung.

Kawasan Situ selanjutnya ...

Ngamumule Budaya Ki Sunda

22-09-2014 221 baca

AKHIR pekan kemaren, komunitas Anak Kali Citarum yang berada di Kampung Bojongasih, Desa/Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung menggelar hajatan besar. Mereka menerima tamu Safari Budaya yang digagas Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Ricky Tenza Adiguna membenarkan rencana hajatan budaya itu. Ketua Karang Taruna RW 14 Kampung Bojong Asih itu menyebutkan, sebagai tuan rumah siap menjamu tamu dari kabupaten tetangga.

"Acaranya digelar pada Sabtu ini (20/9) di Bojongasih. Selain menggelar kegiatan sosial di pagi hingga siang hari, di malam harinya kita disuguhkan kesenian tradisional Sunda semalam suntuk," kata Ricky kepada INILAH.COM

Kegiatan sosial yang akan dilakukan kali ini berupa khitanan massal dan pengobatan gratis. Sedangkan suguhan budaya berupa tari-tarian tradisi, teater, dan seni pertunjukan lain. Ini dilakukan tak lain untuk mempererat tali silaturahmi antardaerah dalam budaya Ki Sunda.

"Kita juga akan dihibur oleh pelawak Ohang dan musik akustik Budi Cilok," tambah Ricky seraya mengundang warga sekitar untuk hadir meramaikan suasana.

Untuk diketahui, Safari Budaya merupakan roadshow yang dilakukan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ke kabupaten/kota se-Jabar. Sebelum ke Bojongasih, rombongan ini pernah ke Pangalengan, Cirebon, Ciamis, hingga Pangandaran pada beberapa tahun ke belakang.

Kunjungan budaya ini dibalut dalam nama Dangiang Galuh Pakuan. Disebutkan, kegiatan ini digelar di beberapa tempat yang dinilai mempunyai nilai historis kebudayaan Sunda. Artinya, kegiatan ini pun merupakan sebuah medium komunikasi sosial.

Dalam setiap kunjungannya, bupati yang tak lepas dari iket kepala itu mengajak semua selanjutnya ...

Gunung Tangkubanparahu Menyingkap Tabir Keindahan

11-09-2014 230 baca

BERWISATA ke Gunung Tangkubanparahu semakin berkesan kalau dibarengi eksplorasi ilmiah di lapangan.

Meski kini ada ratusan objek wisata baru di wilayah seputar Bandung, tapi Gunung Tangkubanparahu tetap bertahan sebagai salah satu destinasi wisata favorit. Jumlah wisatawan dalam dan luar negeri membeludak, terutama setiap akhir pekan.

Mereka yang datang ke objek wisata ini, tentu memiliki latar belakang budaya dan pendidikan beragam. Masing-masing bahkan punya motif sendiri datang ke gunung yang berada di ketinggian 2.084 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini.

Paling banyak, yaitu mereka yang ingin menikmati keindahan alam tempat yang kerap dikaitkan dengan cerita rakyat Sangkuriang. Menikmati kesejukan udara, berfoto bareng keluarga, menyantap jajanan khas, serta membeli suvenir khas untuk oleh-oleh.

Meski begitu tak dapat dipungkiri, ada sejumlah wisatawan yang ingin memeroleh lebih dari itu. Mereka juga ingin sesuatu yang lebih dari sekadar informasi yang ada di brosur wisata. Ini diakui Firliandy (28) warga Cipete, Jakarta Selatan.

“Saya sudah tiga kali ke Tangkubanparahu. Memang enggak pernah bosan lihat pemandangannya, tapi setelah dapat lebih banyak informasi dari internet, majalah, maupun buku-buku, sekarang jadi lebih banyak ilmunya. Tinggal tunggu waktu eksplorasi lapangan,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Ayah satu anak ini memang sedang merencanakan perjalanan ke Tangkubanparahu bersama salah satu komunitas pencinta ilmu geologi di Kota Bandung. Firliandy mendapat informasi tentang aktivitas eksplorasi objek wisata ini melalui media sosial.

“Saya dapat cerita dari teman yang pernah selanjutnya ...

Wayang Cepak Indramayu di Tepian Zaman

25-08-2014 304 baca

Tidak seperti 'sahabat' seni wayang lainnya, nasib Wayang Cepak di Indonesia memprihatinkan. Saking mirisnya, kini di Indramayu dalang wayang menak itu hanya tersisa satu orang.

Satu orang itu adalah Ki Akhmadi. "Ya, sekarang dalang wayang cepak hanya Ki Akhmadi. Dia tinggal di Desa Paoman Kabupaten Indramayu," kata Peneliti Wayang Cepak, Rofiqoh Djawas kepada INILAH.

Rofiqoh pun mendapatkan gambaran yang lebih menyakitkan di lapangan. Saat penelitian, dia mendapatkan 'penolakan' untuk memperoleh data dari Pemerintahan Kabupaten Indramayu. Pemkab setempat seperti mengharamkan.

"Bukan cuma kondisi pewarisan yang sangat miris, pemerintahan daerah (Indramayu) setempat pun tidak memberikan dukungan (untuk pelestarian wayang cepak ini). Para kepala dinas di sana seperti ditekan oleh Bupati (Anna Sophanah). Tak hanya Wayang Cepak, semua tradisi itu dianggap musrik. Mereka meniadakan tradisi yang berkembang di masyarakat," jelas Rofiqoh yang kini terdaftar sebagai mahasiswa program S2 Jurusan Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB). Rofiqoh pun kecewa dengan sikap Dewan Kesenian Indramayu yang tidak peduli dan tidak mau tahu mengenai Wayang Cepak.

Karena adanya tekanan politik itu, kehidupan Ki Akhmadi pun goyang. Terlebih, untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dia hanya mengandalkan penghasilan dari menghibur masyarakat. Sehari-hari dia menghabiskan waktu sebagai imam masjid. Wajar, dia sempat menjual wayang-wayang peninggalan nenek moyangnya.

Sebagian ada yang dijual. Sebagian lagi menunggu dijual agar dapur rumah tangganya terselamatkan. Rofiqoh mengaku wayang yang terpaksa dijual Ki Akhmadi itu bernilai hingga puluhan juta rupiah. Kini, selanjutnya ...

Pantai Minajaya, menyuguhkan Pemandangan Alami

25-08-2014 285 baca

Pernah rekreasi ke pantai-pantai di selatan Sukabumi ? Nampaknya belum lengkap bila belum menginjakkan kaki di Pantai Minajaya. Mengapa? karena pantai di Desa Pasir Ipis Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi ini memiliki daya tarik berbeda dengan objek wisata pantai lainnya.

Di Pantai Minajaya ini ada yang sangat berbeda dengan pantai-pantai lainnya. Di sini, pesisir pantainya memiliki pasir yang berwarna kecokelatan. Sepanjang pantai masih teduh dengan rimbunan pepohonan. Belum lagi batu karang terhampar luas hingga mencapai sekitar 200 meter dari garis pantai ke tengah laut. Bila surut, bisa bermain bebas di atas hamparan batu karang tersebut.

Saat surut itulah terdapat kolam-kolam kecil di sela-sela karang yang terdapat berbagai jenis ikan kecil. Namun, tidak perlu diganggu apalagi ditangkap biarkan saja ikan-ikan hias itu hidup bebas. Bila ingin memilikinya, cukuplah mengabadikannya dengan memotret ikan-ikan tersebut dengan kamera.

Yang paling berbeda dengan pantai lainnya, di atas hamparan batu karang yang luas ini ditumbuhi rumput laut. Saat musim hujan tiba, hamparan rumput laut yang subur ini begitu menakjubkan. Apalagi bila dilihat dari kejauhan, seperti padang rumput hijau yang subur dan sangat mengagumkan.

''Saya senang sekali bila ke Pantai Minajaya ini bila sedang musim rumput laut. Karena bisa melihat keindahan yang berbeda dan tidak dimiliki pantai lainnya,'' kata Rika (26) wisatawan asal Kota Sukabumi kepada INILAH.

Di sepanjang Pantai Minajaya ini tetap bisa bermain-main air laut dengan deburan ombaknya yang tidak besar. Sehingga berenang pun dapat sepuasnya selanjutnya ...

1 2 3 4 ... 27 Next »