Artikel

Wayang Cepak Indramayu di Tepian Zaman

25-08-2014 142 baca

Tidak seperti 'sahabat' seni wayang lainnya, nasib Wayang Cepak di Indonesia memprihatinkan. Saking mirisnya, kini di Indramayu dalang wayang menak itu hanya tersisa satu orang.

Satu orang itu adalah Ki Akhmadi. "Ya, sekarang dalang wayang cepak hanya Ki Akhmadi. Dia tinggal di Desa Paoman Kabupaten Indramayu," kata Peneliti Wayang Cepak, Rofiqoh Djawas kepada INILAH.

Rofiqoh pun mendapatkan gambaran yang lebih menyakitkan di lapangan. Saat penelitian, dia mendapatkan 'penolakan' untuk memperoleh data dari Pemerintahan Kabupaten Indramayu. Pemkab setempat seperti mengharamkan.

"Bukan cuma kondisi pewarisan yang sangat miris, pemerintahan daerah (Indramayu) setempat pun tidak memberikan dukungan (untuk pelestarian wayang cepak ini). Para kepala dinas di sana seperti ditekan oleh Bupati (Anna Sophanah). Tak hanya Wayang Cepak, semua tradisi itu dianggap musrik. Mereka meniadakan tradisi yang berkembang di masyarakat," jelas Rofiqoh yang kini terdaftar sebagai mahasiswa program S2 Jurusan Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB). Rofiqoh pun kecewa dengan sikap Dewan Kesenian Indramayu yang tidak peduli dan tidak mau tahu mengenai Wayang Cepak.

Karena adanya tekanan politik itu, kehidupan Ki Akhmadi pun goyang. Terlebih, untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dia hanya mengandalkan penghasilan dari menghibur masyarakat. Sehari-hari dia menghabiskan waktu sebagai imam masjid. Wajar, dia sempat menjual wayang-wayang peninggalan nenek moyangnya.

Sebagian ada yang dijual. Sebagian lagi menunggu dijual agar dapur rumah tangganya terselamatkan. Rofiqoh mengaku wayang yang terpaksa dijual Ki Akhmadi itu bernilai hingga puluhan juta rupiah. Kini, selanjutnya ...

Pantai Minajaya, menyuguhkan Pemandangan Alami

25-08-2014 109 baca

Pernah rekreasi ke pantai-pantai di selatan Sukabumi ? Nampaknya belum lengkap bila belum menginjakkan kaki di Pantai Minajaya. Mengapa? karena pantai di Desa Pasir Ipis Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi ini memiliki daya tarik berbeda dengan objek wisata pantai lainnya.

Di Pantai Minajaya ini ada yang sangat berbeda dengan pantai-pantai lainnya. Di sini, pesisir pantainya memiliki pasir yang berwarna kecokelatan. Sepanjang pantai masih teduh dengan rimbunan pepohonan. Belum lagi batu karang terhampar luas hingga mencapai sekitar 200 meter dari garis pantai ke tengah laut. Bila surut, bisa bermain bebas di atas hamparan batu karang tersebut.

Saat surut itulah terdapat kolam-kolam kecil di sela-sela karang yang terdapat berbagai jenis ikan kecil. Namun, tidak perlu diganggu apalagi ditangkap biarkan saja ikan-ikan hias itu hidup bebas. Bila ingin memilikinya, cukuplah mengabadikannya dengan memotret ikan-ikan tersebut dengan kamera.

Yang paling berbeda dengan pantai lainnya, di atas hamparan batu karang yang luas ini ditumbuhi rumput laut. Saat musim hujan tiba, hamparan rumput laut yang subur ini begitu menakjubkan. Apalagi bila dilihat dari kejauhan, seperti padang rumput hijau yang subur dan sangat mengagumkan.

''Saya senang sekali bila ke Pantai Minajaya ini bila sedang musim rumput laut. Karena bisa melihat keindahan yang berbeda dan tidak dimiliki pantai lainnya,'' kata Rika (26) wisatawan asal Kota Sukabumi kepada INILAH.

Di sepanjang Pantai Minajaya ini tetap bisa bermain-main air laut dengan deburan ombaknya yang tidak besar. Sehingga berenang pun dapat sepuasnya selanjutnya ...

Yuk Intip Riwayat Tebing Karaton Yang Lagi Hits Ini!

18-08-2014 212 baca

BANDUNG--Wisata Tebing Karaton Desa Ciburial Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung memang sedang ramai diperbincangkan oleh siapa saja. Kehadirannya belakangan ini jelas menarik perhatian masyarakat luas untuk penasaran, bagaimana sebenarnya wujud Tebing Karaton?

Seperti sebuah papan informasi yang tertera di Tebing Karaton, Juru Kunci Ase Sobana mengungkapkan mula -mula nama Tebing Karaton muncul pada awal Mei 2014. Ase akhirnya berinisiasi untuk membuat petunjuk jalan menuju tempat tersebut.

Beberapa motor mulai datang untuk melihat keindahan tempat tersebut. Hal ini tak lain karena Ase dengan suka rela membuka jalan setapak ke tempat tujuan, berikut lahan parkir tanpa bantuan dari orang lain.

Mengapa namanya Tebing Karaton? Ase mengungkapkan Tebing dalam Bahasa Sunda memiliki arti Gawir, sedangkan Karaton adalah sebuah kemewahan, kemegahan alam, dan keindahan alam yang bisa dinikmati bersama. Berbeda dengan Keraton yang identik dengan gedung yang layaknya istana.

Menurutnya, sejak dulu tempat ini sudah ada yaitu dikenal dengan Cadas Jontor. Cadas memiliki arti menonjol ke delan dan mempunyai ketinggiannya yang berbeda diantara cadas-cadas lainnya.

selanjutnya ...

Masjid Manonjaya, Tasikmalaya Campuran Dua Kultur

21-07-2014 5750 baca

Sarat dengan muatan budaya yang merupakan akulturasi dari dua dimensi yang berbeda, membuat Masjid Manonjaya menjadi bagian yang harus dikunjungi saat berada di wilayah Tasikmalaya.

Selain memiliki makna historis kuat yang tidak dapat dipisahkan begitu saja dari sejarah di Priangan Timur, Masjid Manonjaya juga memiliki langgam seni bangunan yang unik dan menarik.

Dari sisi arsitektur tampak sekali adanya titik temu dalam banyak unsur seni bangunan tradisional atau setempat, dengan langgam neoclassic Eropa yang juga sangat menonjol dalam perwujudan bangunan masjid ini.

Unsur seni bangunan tradisional dapat dilihat terutama pada penggunaan atap tumpang tiga, bentuk denah segi empat dan prinsip struktur saka guru di tengah-tengah ruang salat.

Meski untuk saka guru ini, terlihat perbedaan dengan konstruksi saka guru masjid-masjid tradisional, karena berjumlah 10 buah dan dua di antaranya terletak berjajar persis di depan mihrab.

Bentuk dan materialnya pun berbeda dengan saka guru masjid-masjid tradisional pada umumnya. Di sini, tiang saka guru tidak lagi dari kayu, tetapi dari pasang­an bata berbentuk segi delapan dengan diameter lebih dari 80 cm pada bagian bawah dan 50 cm pada bagian atas, yang diakhiri dengan kepala tiang berbentuk segi empat.

Selain itu, di masjid ini terdapat pula ele­men-elemen tradisional khas masjid-masjid di Jawa. Seperti adanya pawestren/pawadonan (ruang salat wanita) di sebelah selatan ruang salat utama, serambi/pendopo di sebelah timur, hingga mustaka/memolo di puncak atap tertinggi yang konon peninggalan seorang ulama penyebar agama Islam selanjutnya ...

Panorama Indah di Tengah Kebun Raya

21-07-2014 5712 baca

Keberadaan Kebun Raya Cibodas-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (KRC-LIPI) di Desa Cimacan Kecamatan Cipanas Cianjur, masih jadi favorit wisatawan. Kondisi itu tak terlepas tersedianya berbagai objek wisata menarik, tak hanya flora dan fauna. Salah satunya tempat wisata di kawasan KRC-LIPI yang sering dikunjungi, adalah Curug Ciismun.

Ada pameo mengatakan, tidak afdal rasanya jika berkunjung ke kawasan KRC-LIPI tak singgah dulu di Curug Ciismun. Ada apa gerangan? Pemandangannya yang indah dan tidak jauh dari pintu gerbang masuk, menjadi alasan banyak wisatawan yang selalu menyempatkan diri singgah di air terjun Ciismun. Lokasinya berdekatan dengan taman tematik Taman Sakura.

Hawa yang sejuk menambah betah jika kita berlama-lama berada di Curug Ciismun. Bisa ber-selfie ria atau juga bisa bercengkrama di tempat tersebut. Curug Ciismum memiliki ketinggian sekitar 20 meter. Air terjun ini berjarak sekitar satu kilometer dari gerbang belakang dan berada dari samping kiri gerbang. Menuju ke lokasi Curug Ciismun bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Namun, jika kita melalui gerbang utama air terjun ini berjarak kurang lebih dua kilometer. Air terjun Ciismun adalah salah satu curug atau fasilitas tempat wisata yang ada di kawasan KRC-LIPI.

Pihak pengelola sengaja membangun jalan menuju air terjun Ciismun, dan jalan air untuk melengkapi keindahan panorama alam di wilayah itu. Di kiri dan kanan jalan, air ditata secara permanen untuk mencegah erosi.

Selain digunakan sebagai latar belakang (background) pengambilan foto, Curug Ciismun juga sering dijadikan tempat untuk mendinginkan suasana hati dan pikiran oleh selanjutnya ...

1 2 3 4 ... 27 Next »