NILAI SEJARAH DI ASTANA GEDE, KAWALI (1)

Tgl. Update : Selasa, 26 Pebruari 2013 Lihat: 5516

Oleh:
Hayati Mayang Arum

Nilai sejarah terkadang terlupakan begitu saja. Di zaman yang serba modern ini orang-orang cenderung menganggap remeh dan enteng terhadap nilai sejarah yang dianggap sudah tidak penting lagi di pelajari menganggap kembali ke masa lampau dan tidak ada gunanya mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Padahal, belajar sejarah bukan berarti harus konservatif dan hanya mencari siapa yang benar dan salah, belajar sejarah adalah cerminnan untuk kehidupan kita, bahan untuk meneladani segala bentuk kegigihannya.
Belajar sejarah adalah keharusan dan merupakan suatu kebutuhan, mengetahui sejarah berarti tahu leluhurnya, setelah tahu maka akan timbul rasa cinta dan akan berusaha untuk menjaga dan melestarikannya. Belajar sejarah harus dimulai dari diri sendiri, pelajarilah sejarah hidup dan asalnya, setelah itu kita barengi dengan sejrah lokal, nasional bahkan global.
Di kabupaten Ciamis sangat banyak sekali peninggalan-peninggalan sejarah bekas peninggalan kerajaan Galuh, baik itu yang datanya lengkap ataupun yang hanya puing-puingnya saja. Salah satunya yaitu Situs Astana Gede Kawali yang bentuk peninggalannya meninggalkan data-data yang otentik sehingga mudah untuk dipelajari.
Kampung Indrayasa, Desa Kawali Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis merupakan salah satu tempat tertua di Jawa Barat. Di tempat ini terdapat sebuah situs yang disebut dengan "Situs Astana Gede" yang pada zaman dahulunya bernama Kabuyutan Sanghyang Lingga Hiyang, dengan luas wilayah sekitar ± 5 Ha dan terdapat di kaki gunung Sawal yang dikelilingi dengan sungai-sungai dan parit sebagai batas wilayahnya. Salah satunya yaitu sungai Cikondang sebagai batas wilayah bagian Utara, dan sungai Cigarunggang batas Selatan serta parit-parit kecil yang airnya cukup jernih walaupun sudah tak banyak lagi mengalirkan air, tetapi ini cukup menambah keindahan dan sebagai make up mempercantik keadaan situs Astana Gede.
Suasana di lingkungan situs ini sangatlah sejuk, di sana masih terdapat pohon bambu, pohon-pohon lindung yang besar dengan usia ratusan tahun. Selain pohon-pohon yang sudah berusia, di sana juga terdapat pohon-pohon baru yang sengaja di tanam dalam program reboisasi rutin yang dilakukan oleh para pelajar disekitar kecamatan Kawali-Kabupaten Ciamis. Selain pohon berkayu, di sebrang situs terdapat pula tanaman palawijanya seperti padi, singkong, dan jagung yang ditanam para petani, di lingkungan Desa Kawali.
Jika ditempuh dari pusat kota Kabupaten Ciamis, situs Astana Gede Kawali ini kurang lebih berjarak 27 KM kearah Utara atau sekitar 45 menit menuju jalur utama, jalan Raya Ciamis-Cirebon. Dan untuk bisa sampai ke situs ini harus ditempuh lagi dengan kendaraan motor, mobil, atau bisa juga jalan kaki kearah Barat, melewati pemukiman kurang lebih 1 KM dari alun-alun atau mesjid Agung Kawali.
Ketika memasuki halaman Asta Gede, akan terlihat sebuah lapangan, gapura serta pagar berwarna ungu sebagai ciri khas peninggalan Galuh, selain itu pagar juga berfungsi sebagai salah satu upaya untuk menjadikan wilayah Astana Gede lebih nyaman dan menarik untuk dikunjungi. Sejak memasuki halaman awalpun, suasana sudah terasa sejuk dan teduh dengan segenap kesyakralannya.
Selain itu, disini kita akan melihat beberapa satwa khas Astana Gede seperti beberapa ekor kera dan ratusan kelelawar yang bergelantungan di atas pohon. Kelelawar-kelelawar ini dilindungi keberadaannya hingga tidak heran, jika populasinya sudah semakin banyak.
Astana Gede Kawali adalah salah satu peninggalan sejarah kerajaan Sunda-Galuh, yang berdiri sekitar tahun 1333. Di Astana Gede ini terdapat empat macam peninggalan purbakala, dari tiga zaman mulai zaman ke satu atau zaman prasejarah peninggalannya berupa menhir dan masyarakat menyebutnya dengan batu panyandaan. Dan selanjutnya berupa :
Prasasti
Prasasti ini diperkirakan peninggalan abad ke-14, atau masa kedua ketika masih beragama Hindu-Budha.
Prasasti dalam pengertian modern yaitu tulisan yang ada dalam batu nisan. Tapi dalam dalam bahasa Indonesia prasasti adalah piagam atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras dan tahan lama, seperti batu, logam dan tulang. Prasasti biasanya ada di tempat peninggalan sejarah atau gedung yang dijadikan sebagai pengingat-ngingat peletakan batu pertama. Secara etimologi prasasti berasal dari bahasa Sanksekerta yang artinya pujian. Begitu juga di Astana Gede, sebagian banyak prasastinya adalah pujian kepada Raja ketika zaman Niskala Wastu Kancana sebagai penguasa pada waktu itu. Dibuat sebagai pengingat-ngingat atau maklumat pada para penguasa. Prasasti yang ditemukan di Astana Gede Kawali semuanya menggunakan aksara Sunda dan berjumlah 6 prasasti.***

sumber : www.kabar-priangan.com/news/detail/7875



   
Artikel Lainnya