
Wilayah Bandung bagian selatan tak sekadar menyajikan pemadangan indah perkebunan teh khas Ciwidey, Rancabali, atau Pangalengan. Lebih dari itu, Bandung selatan khususnya daerah Ibun memiliki sajian kuliner nikmat yang bahkan sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Kuliner tersebut adalah Borondong Ketan Ibun. Pada awalnya, makanan ini dibuat saat musim panen atau acara syukuran hasil bumi. Proses pembuatannya dilakukan bersama-sama. Warga kampung berkumpul, menyangrai ketan dalam wajan besar di atas tungku, lalu mencampurnya dengan gula dan mencetaknya ramai-ramai.
Selain menjadi simbol kegembiraan panen, makanan tersebut juga melambangkan semangat kebersamaan dan gotong royong sesama masyarakat pedesaan. Sementara secara filosofis, rasa manisnya menggambarkan rezeki yang melimpah serta kebahagiaan dalam menjalani kehidupan.
Awalnya ide membuat kuliner ini muncul karena warga di zaman dahulu belum memiliki teknologi untuk menyimpan hasil panen agar tahan lama. Maka para ibu di kampung mencari cara agar ketan bisa tetap awet, mudah dibawa, dan tetap lezat. Dari dapur-dapur sederhana itulah lahir ide menyangrai ketan hingga meletup-meletup seperti popcorn yang kita kenal pada saat ini.
Tak berhenti di situ, mereka menambahkan gula aren cair agar rasanya menjadi lebih manis. Mulai dari sana, Borondong Ketan Ibun disukai banyak kalangan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Seiring waktu, Brondong Ketan Ibun menjadi oleh-oleh khas daerah yang banyak dijual di pasar-pasar tradisional atau sepanjang jalur wisata Bandung Selatan. Beberapa keluarga di Ibun masih mempertahankan resep turun-temurun, menjaga cita rasa otentik dengan bahan alami tanpa pengawet.
Foto: erwanfajari.blogspot.com
Penulis: Bagusthira Evan Pratama



