
Di tengah pesatnya perkembangan zaman, Kabupaten Majalengka masih mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal. Berbagai tradisi dan kebudayaan khas Sunda Priangan bisa ditemui di banyak tempat, salah satunya di Desa Wisata Bantar Agung.
Desa kecil yang terletak di kaki Gunung Ciremai ini sudah beridiri sejak ratusan tahun lalu lalu. Awalnya masyarakat setempat resah karena kampung halaman mereka memiliki beragam potensi alam, budaya, serta kearifan lokal, namun tidak dioptimalkan dengan baik. Hal tersebut justru melahirkan gagasan sekaligus kesadaran masyarakat untuk mengelola desa menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Majalengka.
Perjalanan dalam mengembangkan potensi desa wisata diawali dengan pengelolaan Curug Cipeuteuy sebagai daya tarik wisata alam. Setelah berhasil, pengembangan diperluas ke berbagai daya tarik mulai dari Ciboer Pass, Awi Lega, Kampung Herbal Mertasela, Kawasan Sawah Pakuwon, serta lanskap pertanian yang diubah menjadi kawasan wisata edukasi.
Seiring berjalannya waktu, Bantar Agung kini dilengkapi dengan sejumlah fasilitas. Setidaknya sudah ada 132 homestay, 6 villa dan cottage, serta area perkemahan. Sarana prasarana pendukung juga telah berdiri seperti pusat UMKM, tempat ibadah, hingga aksesibiltas ke pusat pelayanan kesehatan.
Dengan beragam keunggulan yang dimilikinya, Desa Wisata Bantar Agung berhasil dinobatkan sebagai 15 desa/kampung wisata terbaik di ajang Wonderful Indonesia Awards 2026. Prestasi tersebut seolah menegaskan bahwa potensi yang besar akan melahirkan dampak positif jika dibarengi dengan komitmen kuat serta kolaborasi antar masyarakat.

Ada apa di Desa Wisata Bantar Agung?
Mengingat lokasinya yang berada di kaki Gunung Ciremai, kekayaan alam menjadi keunggulan dari Desa Wisata Bantar Agung. Di sini wisatawan akan diajak melakukan berbagai aktivitas mulai dari bermain di sawah, trekking menjelajahi hutan, hingga merasakan kehidupan masyarakat lokal. Setiap aktivitas membawa wisatawan menjadi lebih dekat dengan alam maupun kearifan masyarakat desa.
Jika ingin melipir sejenak dari hiruk pikuk kehidupan sosial, wisatawan bisa menikmati area camping yang luas. Tapi jika ingin berbaur dengan warga desa, pengelola menyiapkan program Live-In, dimana wisatawan dapat tinggal di rumah penduduk dan mengikuti beragam aktivitas mulai dari bertani, beternak, panen buah, hingga mengolah makanan tradisional.
Untuk yang suka berbelanja, terdapat Pasar Bumi Pakuwon yang digelar secara berkala dengan menerapkan nuansa tradisional. Pasar ini menyuguhkan aneka kuliner khas desa, produk UMKM, hasil pertanian segar, serta pertunjukan seni dan budaya. Pengunjung tak hanya berbelanja, tapi juga dapat menikmati pengalaman yang membangkitkan nostalgia dan kehangatan akan kampung halaman.
Penulis: Bagusthira Evan Pratama



