
BANDUNG - Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus berupaya menambah jumlah karya budaya di daftar Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. Sejauh ini Pemprov Jabar terus mendorong 27 kabupaten/kota untuk lebih aktif mengusulkan karya budaya di daerahnya sebagai bentuk komitmen pengembangan budaya ke tingkat Nasional, sekaligus memperkuat daya tarik wisata.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Iendra Sofyan saat menghadiri Press Conference & Talkshow Akulturasa ITB 2026, Selasa 2 Juni 2026. Dirinya menargetkan, setiap tahun setidaknya ada 100 karya budaya yang terdaftar di WBTB tingkat Nasional.
"Kalau bisa setahun minimal ada 100. Target pusat 1.000 (karya budaya) seluruh Indonesia, kita harus ambil 100 sampai 200. Teman-teman kabupaten/kota akan terus kita dorong," ucapnya.
Menurutnya, masih banyak potensi budaya di berbagai daerah yang belum terdokumentasikan dan diusulkan secara resmi. Padahal terdapat berbagai tradisi, kuliner, seni pertunjukan, hingga pengetahuan lokal yang memiliki peluang besar untuk mendapat pengakuan sebagai warisan budaya.
Kadisparbud menambahkan, pencatatan WBTB juga dapat memberikan nilai tambah bagi sektor pariwisata. Sebab saat ini wisatawan tidak sekadar mencari tempat untuk berlibur, tetapi juga pengalaman yang memiliki nilai edukasi dan cerita tersendiri.
"Wisatawan bukan hanya untuk rekreasi saja, tapi juga pengembangan diri seperti pelatihan dan lainnya. Ada juga tujuan wisata yang unik, salah satunya kuliner. Story telling-nya juga penting. Jadi orang tidak hanya foto-foto. Mereka tahu ceritanya, daya tariknya, sampai khasiatnya," jelas Kadisparbud.
Sejauh ini sudah ada 182 karya budaya Jawa Barat yang diakui sebagai WBTB Indonesia. Tahun lalu terdapat 42 karya budaya Jawa Barat yang ditetapkan sebagai WBTB tingkat nasional dan itu menjadi catatan tertinggi sepanjang sejarah.
"Teman-teman kabupaten dan kota, kita dorong bersama untuk terus menggali potensi budaya di daerah masing-masing. Yang penting proposalnya jelas dan bisa dibuktikan otentik," pungkas Kadisparbud.
Penulis: Bagusthira Evan Pratama



