
CIAMIS - Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia digelar secara khidmat, Rabu 9 September 2026. Kegiatan yang diadakan di Situs Bojong Galuh Karangkamulyan ini merupakan agenda tahunan untuk memperingati sejarah toleransi tanah Galuh (Ciamis) yang menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian dan persaudaraan.
Prosesi peringatan ditandai dengan tabuhan Gong Perdamaian oleh Bupati Ciamis Herdiat Sunarya bersama jajaran Forkopimda. Gong berukuran 3,33 meter itu terbuat dari perpaduan perunggu serta plat besi, dan dikenal sebagai Gong Perdamaian terbesar di Indonesia.
"Perdamaian bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya. Perdamaian merupakan hasil dari perjuangan, kesadaran, dan komitmen bersama," ucap Bupati Ciamis.
Sebelum menabuh Gong Perdamaian, kegiatan diawali dengan prosesi kirab budaya dan pengibaran bendera Merah Putih. Dalam kesempatan ini, hadir sejumlah pelajar, budayawan, tokoh lintas agama, dan tokoh masyarakat Ciamis.
Menurut Bupati Ciamis, masyarakat Tatar Galuh zaman dulu sangat visioner karena telah memiliki upaya dalam menjaga persatuan serta menghindari peperangan melalui Mupulung Rahi yang dibuat pada tahun 739 Masehi. Mupulung Rahi dikenal sebagai rangkaian 10 perjanjian damai yang disepakati para keturunan Wretikandayun. Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga persatuan dan menciptakan keharmonisan di wilayah Galuh.
"Jauh sebelum Indonesia lahir, bahkan jauh sebelum UUD 1945 dirumuskan, Tatar Galuh Ciamis telah lebih dahulu menorehkan jejak agung tentang perdamaian," ungkap Bupati Ciamis.
"Jadikan Ciamis sebagai rumah nilai perdamaian sejarah, tempat belajar dari sejarah untuk membangun masa depan yang harmonis," pungkasnya.
Dalam sejarahnya, gong ini hanya dibunyikan setiap tanggal 9 September. Bunyi gong tersebut memiliki makna yang berarti sebagai seruan harmoni, yang tidak hanya diperuntukan bagi warga Ciamis, melainkan untuk masyarakat Nusantara dan Dunia.
Penulis: Bagusthira Evan Pratama

