Hero section image background

Peringatan Tutup Taun 1958 Ngemban Taun 1 Sura 1959 Saka Sunda di Kampung Adat Cireundeu

Sabtu, 12 Juli 2025

Berita

714

Postingan ini dilihat

1

Postingan ini dibagikan

Poster post Peringatan Tutup Taun 1958 Ngemban Taun 1 Sura 1959 Saka Sunda di Kampung Adat Cireundeu

BANDUNG - Masyarakat di Kampung Adat Cireundeu Kota Cimahi masih meneruskan tradisi leluhur yaitu menggelar peringatan tutup taun Saka Sunda. Tradisi tersebut ditujukan untuk merefleksi diri di tahun sebelumnya, agar menjadi pribadi yang lebih baik di tahun yang akan datang.

Rangkaian kegiatan pada Peringatan Tutup Taun 1958 Ngemban Taun 1 Sura 1959 Saka Sunda diadakan sejak Kamis 10 Juli 2025 hingga Sabtu 12 Juli 2025. Berbagai acara kebudayaan dilaksanakan dan puncaknya adalah doa bersama yang dipimpin sesepuh adat, serta dihadiri warga sekitar hingga orang-orang yang tinggal tak jauh dari Kampung Adat Cireundeu.

"Setiap ajaran punya ciri dan cara masing-masing. Cara dan ciri di Cireundeu ketika Tutup Taun 1 Sura Saka Sunda 1959, tuntunannya seperti ini. Akur, rukun, repeh, rapih kita tumpahkan di sini, lewat tradisi ini," kata Abah Widi, Ais Pangampih yang merupakan salah satu tokoh penting di Kampung Adat Cireundeu. 

Ritual Tutup Taun Ngemban Taun Saka Sunda juga menjadi gambaran dari kerukunan berbagai umat beragama dan keyakinan yang bermukim di Kampung Adat Cireundeu. Nilai-nilai toleransi tinggi ini mampu dipertahankan selama bertahun-tahun.

"Kita menjaga tradisi ini bukan cuma ritualnya saja. Bukan cuma buat kami orang Cireundeu. Tapi juga ada keakuran di sini. Akur antara kami di Cireundeu dengan masyarakat agama apapun, suku apapun. Di sini hadir dari Hindu, Budha, Kristen, Islam, semua hadir. Orang Jawa, orang Batak, juga ada di sini. Semua berbaur," jelas Abah Widi.

Salah satu tradisi yang juga menjadi keunggulan Kampung Adat Cireundeu adalah tidak memilih nasi sebagai bahan makanan pokok. Warga di sana lebih memilih olahan singkong sebagai karbohidrat dan hal tersebut telah diterapkan secara turun temurun.

"Cireundeu ingin mengajarkan banyak hal tanpa bermaksud menggurui. Kita tidak ketergantungan dengan nasi, tapi sudah makan singkong sejak lama. Orang yang hadir ke sini, kita suguhkan singkong supaya mereka juga terbiasa. Nantinya tidak ketergantungan dengan nasi. Itu juga salah satu ajaran yang kita ingin sampaikan di tahun baru ini," ujar Abah Widi.

Pada peringatan ini, singkong serta hasil bumi lainnya dibawa ke area Bale Warga. Selain itu juga ada buah-buahan yang dihias sedemikian rupa untuk nantinya dinikmati bersama-sama.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Iendra Sofyan yang hadir di Peringatan Tutup Taun 1958 Ngemban Taun 1 Sura 1959 Saka Sunda mengaku terkesan dengan kebiasaan masyarakat Kampung Adat Cireundeu. Kadisparbud Jabar berharap tradisi ini dapat dipertahankan karena memiliki nilai budaya tinggi.

"Saya senang sekali bisa hadir pada peringatan Tutup Taun 1958 Ngemban Taun 1 Sura 1959 Saka Sunda. Acara ini mengingatkan kita semua, bahwa di tengah globalisasi, kita tetap harus mengamanahkan warisan leluhur yaitu hidup rukun repeh rapih," ucap Kadisparbud.

"Ini salah satu budaya Sunda yang harus diteruskan. Pak Gubernur Dedi Mulyadi juga sudah menyampaikan bahwa kita harus terus melestarikan nilai-nilai budaya daerah seperti yang dilakukan sekarang ini," pungkasnya.

Penulis: Bagusthira Evan Pratama

Tags

  • tutuptaun1958ngembantaun1sura1959sakasunda
  • tutuptaunngembantaun
  • kampungadatcireundeu
  • cimahi
  • iendrasofyan
  • wisata
  • pariwisata
  • wisatajabar
  • budaya
  • budayajabar
  • kebudayaan
  • budayajawabarat