Hero section image background

Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih sebagai Simbol Kejayaan Sunda

Senin, 18 Mei 2026

Berita

9,2 rb

Postingan ini dilihat

11

Postingan ini dibagikan

Poster post Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih sebagai Simbol Kejayaan Sunda

BOGOR - Prasasti Batutulis yang berada di wilayah Kota Bogor tak sekadar peninggalan sejarah semata. Lebih dari itu, tersimpan fakta besar yang menceritakan kejayaan Kerajaan Sunda di bawah pimpinan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi.

Hal tersebut tertuang dalam beberapa penelitian, salah satunya dari Titi Surti Nastiti selaku Ahli Epigrafi. Pada sesi diskusi bertajuk 'Batutulis dalam Sudut Pandang Teknokratis' yang digelar di Museum Pajajaran Bogor, Kamis 14 Mei 2026, dirinya menyampaikan bahwa prasasti tersebut dibuat atas perintah Raja Surawisesa untuk mem­peringati jasa pendahu­lunya yakni Prabu Siliwangi (1482-1521) yang dianggap berjasa memperbaiki penataan di Kota Pakuan Pajajaran sebagai ibukota Kerajaan Sunda.

Namun setelah melewati abad demi abad, Kerajaan Sunda yang dulu berjaya tak banyak menampakkan sisa-sisa peninggalannya. Beberapa faktor menjadi penyebab, salah satunya pengaruh kerajaan Islam yang begitu kuat di sebagian besar wilayah Pulau Jawa.

Meski demikian, ada satu artefak yang dianggap menggambarkan kemegahan Kerajaan Sunda di masa lampau. Artefak tersebut adalah Mahkota Binokasih yang disimpan secara turun temurun di Keraton Sumedang Larang.

Menurut naskah kuno Carita Parahyangan, mahkota tersebut dibuat di Kerajaan Galuh dengan tujuan sebagai simbol kekuasaan serta legitimasi bagi raja-raja Sunda. Namun ketika Kerajaan Sunda runtuh, Mahkota Binokasih diserahkan oleh empat utusan Pajajaran kepada penguasa Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun.

Ahli Arkeometalurgi BRIN Harry Octavianus Sofian yang turut hadir pada sesi diskusi di Museum Pajajaran Bogor menganalisa bahwa Mahkota Binokasih mempunyai hubungan yang tidak terpisahkan dengan budaya masyarakat Sunda yaitu 'Kosmologi Triangtu'. Itu merupakan konsep kehidupan yang terbagi ke dalam tiga unsur yakni hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama, dan hubungan manusia dengan alam. 

Harry menambahkan, Mahkota Binokasih didesain sedemikian rupa hingga memiliki komponen yang mewakili tiga peranan di Kerajaan Sunda yaitu Rama, Ratu/Prabu, dan Resi. Menurut penjelasannya, Rama adalah kelompok pemimpin spiritual atau rohaniawan yang menjaga nilai-nilai adat, agama, dan juga kebijaksaaan. Posisinya ada di bagian atas mahkota, berbentuk stupa dengan ornamen yang didominasi bunga teratai. Desain tersebut melambangkan karakteristik kepemimpinan seseorang yang memiliki kebijaksanaan dan memancarkan keindahan sekaligus manfaat bagi orang lain. 

Di bagian tengah mahkota (ratu/prabu) melambangkan kesempurnaan tindakan pemimpin dalam mengambil keputusan dan merumuskan peraturan-peraturan. Terdapat desain daun segitiga pada sisi-sisi mahkota bagian tengah, serta ornamen Garuda Mungkur di bagian belakangnya. Hal tersebut dimaknai bahwa seorang pemimpin harus mampu melindungi masyarakatnya dengan keberanian dan sifat kesatria.

Untuk bagian bawah (resi), desain mahkota memiliki makna terkait ajaran Kasundaan Bunisora Suradipati. Nama tersebut merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Sunda yang memerintah di masa Kerajaan Sunda-Galuh sekitar abad ke-14. Ia dikenal sebagai pemimpin bijaksana yang memperkuat nilai budaya, spiritualitas, serta tata kehidupan masyarakat. Sesuai dengan pembagian peranannya, resi memang terdiri dari kelompok kaum intelektual, penasehat, atau orang bijak yang memberi ilmu dan pertimbangan.

Melihat nilainya yang sangat besar, tak heran Mahkota Binokasih dijaga dan disimpan rapat-rapat oleh Keraton Sumedang Larang. Namun dalam rangka Milangkala Tatar Sunda, mahkota tersebut dibawa ke beberapa kabupaten/kota sebagai perwujudan napak tilas Pajajaran. Hal ini tentunya jadi momentum bagi masyarakat untuk bisa mengenali lebih dalam sejarah Kerajaan Sunda.

Dikaji Lebih Dalam Secara Akdemik


Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengajak masyarakat memahami peninggalan sejarah Sunda melalui pendekatan akademik dan peradaban, bukan sekadar dikaitkan dengan hal-hal klenik. Karena itu, dirinya mendorong penyusunan kajian berbasis akademik terkait prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih. 

"Kegiatan diskusi ini adalah agar kita bisa mengubah cara pandang yang klenik menjadi cara pandang yang teknokratis. Sehingga ketika memahami benda-benda kepurbakalaan, maka kita harus melihat dari sudut peradaban," ucap Gubernur.

"Jadi Batutulis nanti harus ada buku akademiknya, memberikan kajian secara komprehensif, dimulai dari tanggal pembuatan, bahan pembuatan, siapa yang membuat, apa arti tulisannya dan nanti kemudian Mahkota Binokasih Sanghyang Pake juga sama," sambungnya.

Dirinya menambahkan, situs dan benda bersejarah harus dipandang sebagai bukti kemajuan peradaban leluhur Sunda yang telah memiliki kecerdasan berpikir serta kemampuan membangun budaya pada masanya. Oleh karena itu Gubernur yang akrab disapa KDM tersebut menilai, pendekatan akademik sangat penting agar masyarakat memahami nilai-nilai sejarah secara utuh, mulai dari proses penciptaan hingga makna yang terkandung dalam setiap peninggalan budaya.

"Dan kemudian semuanya harus menjadi karya-karya akademik. Sehingga nanti kita punya buku-buku atau naskah-naskah akademik yang menjelaskan satu masalah demi satu masalah, satu peninggalan demi satu peninggalan untuk membangun dan menata masa depan," ujarnya.

Gubernur menegaskan kesinambungan antara sejarah masa lalu dan pembangunan masa depan harus dijaga agar identitas budaya Sunda tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

 

Foto: Dok. Antara Jawa Barat

 

Penulis: Bagusthira Evan Pratama

Tags

  • budaya
  • budayajabar
  • budayajawabarat
  • kebudayaan
  • kebudayaanjabar
  • kirabbudaya
  • pemprovjabar
  • dedimulyadi