
Berbagai kegiatan banyak dilakukan masyarakat dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus. Dari sekian banyak aktivitas, salah satu yang menarik perhatian adalah menyusuri jejak-jejak pejuang dalam merebut kemerdekaan Tanah Air.
Di Jawa Barat, tersimpan bangunan-bangunan bersejarah yang bisa menjadi pilihan untuk memperingati kemerdekaan Indonesia. Berikut beberapa destinasi yang bisa menjadi tujuan;
1. Gedung Indonesia Menggugat
Gedung Indonesia Menggugat merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di Kota Bandung. Gedung ini menjadi saksi bisu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Pada tahun 1930, Soekarno (Presiden pertama RI) pernah diadili Pemerintah Hindia Belanda di bangunan yang dulunya bernama Gedung Landraad Bandung ini. Dalam prosesnya, Soekarno menyampaikan pledoi atau nota pembelaan yang kemudian dikenal sebagai 'Indonesia Menggugat'.
Selama persidangan, Bung Karno mengkritik sistem penjajahan Belanda. Selain itu ada isu penting lainnya yang juga disampaikan seperti persoalan politik, ekonomi, sosial, serta penderitaan rakyat Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, gedung ini sempat digunakan untuk berbagai kepentingan mulai dari Palang Merah hingga Jawatan Metrologi. Saat ini pengelolaan sudah diambil alih Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan menjadi salah satu bangunan cagar budaya.
2. Monumen Bandung Lautan Api
Monumen setinggi 45 meter ini didirikan untuk mengenang peristiwa penting 'Bandung Lautan Api'. Pada tahun 1946 lalu, para pejuang dan masyarakat Kota Bandung bahu membahu melakukan pengosongan rumah untuk dibumihanguskan agar tidak dapat diduduki oleh pasukan Sekutu dan Belanda (NICA) yang berniat kembali menguasai Indonesia.
Monumen peringatan ini dibangun pada dekade 1980-an. Salah satu ciri paling dikenal dari monumen ini adalah bentuknya yang menjulang tinggi dengan bagian puncak menyerupai kobaran api.
Monumen Bandung Lautan Api berada di kawasan Lapangan Tegallega Kota Bandung. Bangunan tersebut mewujudkan simbol semangat masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
3. Rumah Rengasdengklok
Tertelak di Kabupaten Karawang, rumah ini menjadi saksi bisu detik-detik sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Di rumah ini, Soekarno dan Mohammad Hatta (wakil presiden pertama RI) mendiskusikan rencana sekaligus merancang perumusan naskah proklamasi.
Sebelum menjadi tempat bersejarah, rumah tersebut dihuni oleh pria asal Tionghoa bernama Djiaw Kie Siong. Ketika Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, rumah itu digunakan sebagai tempat mereka beristirahat serta melakukan pembicaraan dengan para golongan pemuda.
Uniknya, rumah bersejarah ini sempat dipindahkan beberapa meter dari lokasi aslinya di sisi Sungai Citarum. Pemindahan itu dilakukan agar menghindari ancaman dari abrasi di tepi sungai. Meski demikian, bentuk dan desain bangunan lama tetap dipertahankan.
4. Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat
Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (Monpera Jabar) merupakan salah satu landmark sejarah di Kota Bandung. Bangunan ini didirikan untuk mengenang perjuangan rakyat Jawa Barat dalam merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.
Saat ini monumen tidak hanya berfungsi sebagai bangunan peringatan, tetapi juga memiliki museum sejarah, ruang edukasi, auditorium, serta berbagai fasilitas publik lainnya. Sampai sekarang pengelolaannya berada di bawah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat melalui UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat (PKDJB).
Lokasi Monpera berdekatan dengan Gedung Sate dan Jalan Dipatiukur. Titiknya yang strategis menjadikan Monpera cukup mudah diakses untuk tujuan wisata sejarah di Kota Bandung.
5. Gedung Juang 45
Gedung Juang 45 berada di Jalan Sultan Hasanudin No. 39, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Di dalamnya terdapat berbagai koleksi penting mulai dari peninggalan masa prasejarah, peninggalan Kerajaan Tarumanegara, peninggalan masa kolonial Belanda, serta peninggalan masa penjajahan Jepang.
Awalnya gedung ini dikenal dengan nama Landhuis Tamboen yang dibangun oleh Khouw Tjeng Kie, seorang tuan tanah keturunan Tionghoa. Fungsi bangunan berkaitan dengan pengelolaan tanah dan perkebunan milik keluarga Khouw.
Pada 1942, Landhuis Tamboen dan tanah disekitarnya disita oleh tentara Jepang. Setelahnya Jepang memanfaatkan bangunan tersebut untuk kepentingan pemerintahan dan juga pangkalan militer.
Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini mengalami beberapa perubahan fungsi. Hingga akhirnya pada 2021 Pemerintah Kabupaten Bekasi secara resmi membuka museum di bangunan bersejarah ini.
6. Museum & Monumen PETA
Bangunan yang berada di Kota Bogor ini merekam perjalanan pembentukan Tentara Pembela Tanah Air (PETA) pada masa pendudukan Jepang. Di dalamnya tersimpan sejumlah koleksi bersejarah seperti perlengkapan militer, pakaian atau atribut tentara, senjata, hingga dokumen-dokumen penting.
Kompleks bangunan tersebut sebenarnya didirikan pada abad ke-18, sekitar tahun 1743–1745. Awalnya bangunan digunakan sebagai tempat tinggal para pengawal dan pegawai Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Namun oleh Jepang, fungsinya diubah menjadi pusat pelatihan tentara PETA.
Saat ini terdapat Monumen PETA di bagian kompleks museum. Salah satu elemen utama monumen tersebut adalah patung Jenderal Sudirman sebagai perwira PETA. Terdapat pula patung Supriyadi yang mengingatkan pengunjung pada perlawanan PETA terhadap Jepang di wilayah Blitar.
7. Goa Belanda dan Goa Jepang
Di Jawa Barat, terdapat beberapa goa peninggalan tentara Belanda dan tentara Jepang. Goa-goa ini bukanlah lubang alami, melainkan bangunan yang sengaja dibuat untuk berbagai kebutuhan seperti saluran air, bunker perlindungan, atau tempat menyimpan persenjataan.
Salah satu goa peninggalan Belanda dan Jepang berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bandung. Belanda membangun goa ini untuk berbagai fungsi, salah satunya berkaitan dengan terowongan penyadap atau pengalihan air Sungai Cikapundung. Selain itu terowongan juga dimanfaatkan untuk kepentingan strategis dan militer.
Sementara Jepang, goa ini dijadikan bunker pertahanan karena berkaitan dengan situasi Perang Dunia II. Ketika itu Jepang mempersiapkan sistem pertahanan untuk menghadapi kemungkinan serangan pasukan Sekutu.
Selain di Bandung, goa-goa buatan ini juga ditemukan di beberapa daerah seperti Garut, Pangandaran, dan Sukabumi.
8. Penjara Banceuy
Penjara Banceuy dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada akhir abad ke-19. Penjara ini dibuat untuk mengurung berbagai kelompok, mulai dari tahanan kriminal hingga politik.
Pada 1929, Soekarno pernah dipenjara di sini untuk membatasi aktivitas pergerakan nasional yang dilakukannya bersama rekan-rekan dari Partai Nasional Indonesia (PNI). Sel yang ditempati Bung Karno sangat kecil, hanya berukuran 1,5 × 2,5 meter.
Saat ini, sel bekas Soekarno merupakan salah satu bagian utama yang masih dipertahankan di situs bersejarah Banceuy. Di dalamnya terdapat sejumlah benda replika dan informasi mengenai masa tahanan Soekarno.
Penulis: Bagusthira Evan Pratama



