Hero section image background

Wisata Ramah Muslim: Mengenal 4 Pilar ACES sebagai Standar Destinasi Kelas Dunia

Senin, 20 Juli 2026

Berita

37

Postingan ini dilihat

1

Postingan ini dibagikan

Poster post Wisata Ramah Muslim: Mengenal 4 Pilar ACES sebagai Standar Destinasi Kelas Dunia

Pariwisata ramah Muslim tengah naik daun. Di beberapa negara termasuk Indonesia, potensi ini gencar dikembangkan mengingat banyaknya jumlah wisatawan Muslim dari berbagai penjuru dunia.

Menurut data Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2025, pasar wisatawan Muslim dunia terus menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat dan menjadi salah satu segmen yang berkembang dengan cepat. Sepanjang tahun lalu, terdapat 196 juta perjalanan wisatawan Muslim dan menurut prediksi GMTI, angkanya akan bertambah hingga 262 juta perjalanan sampai tahun 2030.

Seiring meningkatnya jumlah tersebut, berbagai negara terus berlomba menghadirkan destinasi yang lebih nyaman serta memenuhi standarisasi pariwisata ramah Muslim. Untuk mengukur hal itu, GMTI menggunakan kerangka penilaian ACES (Access, Communication, Environment, Services) sebagai standar utama.

Berikut penjelasannya:

Access (Akses)
Dalam hal ini, akses bukan hanya mengenai rute perjalanan saja. Lebih dari itu, akses mencakup kemudahan wisatawan mencapai destinasi melalui berbagai pilihan moda transportasi, kualitas infrastruktur, konektivitas, hingga mobilitas selama berada di lokasi wisata.

Destinasi dengan akses yang baik tentunya memungkinkan wisatawan untuk menghabiskan lebih banyak waktu menikmati perjalanan. Bagi wisatawan Muslim, kemudahan tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan perjalanan yang nyaman dan juga efisien.

Communication (Komunikasi)
Komunikasi menjadi hal penting lainnya dalam standarisasi pariwisata ramah Muslim. Aspek ini meliputi penyediaan panduan wisata Muslim, informasi lokasi masjid dan musala, daftar restoran halal, kesiapan pemandu wisata, promosi digital, hingga edukasi bagi para pelaku industri pariwisata.

Semakin mudah wisatawan memperoleh informasi yang akurat, semakin tinggi pula tingkat kepercayaan mereka terhadap sebuah destinasi. Di era digital, komunikasi bahkan menjadi 'gerbang pertama' yang menentukan keputusan wisatawan.

Environment (Lingkungan)
Lingkungan yang nyaman tentunya menjadi nilai plus bagi sebuah destinasi. Tak hanya nyaman, kebersihan, rasa aman, keramahan, hingga sarana prasarana yang baik dapat memanjakan wisatawan sehingga menumbuhkan peluang untuk kembali ke tempat yang sama berkali-kali.

Tanpa lingkungan yang mendukung, sebuah destinasi bisa memiliki kesan yang buruk di mata wisatawan. Karena itu bukan hanya pengelola destinasi saja, perlu sinergi banyak pihak agar menciptakan lingkungan yang baik.

Services (Layanan)
Pada aspek ini, destinasi dinilai berdasarkan ketersediaan fasilitas yang benar-benar dibutuhkan wisatawan Muslim seperti makanan halal, musala atau masjid yang mudah dijangkau, tempat wudu yang memadai, penunjuk arah kiblat, hotel ramah Muslim, hingga toilet yang dilengkapi air. Namun layanan ramah Muslim tidak berarti seluruh fasilitas harus bersifat eksklusif. Justru yang diutamakan adalah kemudahan akses terhadap layanan tersebut, sehingga wisatawan dapat menjalankan ibadah tanpa mengganggu aktivitas berwisata.

Prinsip inilah yang membuat wisata ramah Muslim berbeda dengan wisata religi. Wisata ramah Muslim tidak mengubah karakter sebuah destinasi, melainkan memperkaya kualitas pelayanannya agar semakin nyaman bagi semua pengunjung.

Keempat pilar ACES menunjukkan bahwa wisata ramah Muslim bukan hanya berbicara tentang makanan halal atau tempat salat saja. Melainkan sebuah ekosistem yang mengintegrasikan aksesibilitas, informasi, kualitas lingkungan, dan layanan agar menjadi pengalaman wisata yang utuh.

 

Penulis: Bagusthira Evan Pratama

Tags

  • pariwisata
  • pariwisatajabar
  • pariwisatajawabarat
  • wisata
  • wisatajabar
  • wisatajawabarat
  • wisataramahmuslim
  • jawabarat